Thursday, April 25, 2013

Rindu Tak Sampai

kalau kamu jadi aku
kamu mau melukis seperti apa
seperti kita yang tak pernah satu
atau seperti aku yang lelah menyeru

kalau aku jadi kamu
aku akan melukis seperti ini
seperti kita yang lupa canda
dan seperti kamu yang tak pernah ada

kalau aku dan kamu jadi kita
kita akan melukis seperti apa
seperti aku yang menari di atas pelangi
dan kamu meluncur dari arasi

kalau kita jadi aku dan kamu
apa yang akan kita lukis
melukis kita yang beda kubu
atau kita yang selalu menggerutu

seperti itu
atau seperti ini

aku bersua dengan rindu
kamu bercumbu dengan madu

kamu menangis menahan pilu
aku bersembunyi di balik pelukan maha meru

kalau aku sudah meronta
kamu bilang aku gila
kalau kamu sedang merebah
aku bilang kamu serakah

kalau aku mengayun rindu
apa kamu juga begitu

kalau kamu menarik janji
apa aku merasa tersakiti

aku berada di peraduan
sendiri menunggu keajaiban
kamu?
kamu masih terjebak pada nostalgia
lalu kapan kita bersama?
saat sigma mulai berlomba
lama!


@indikann
kalau aku kangen sama kamu. kamu mau apa?
aku di sini kangen sama kamu
tapi aku nggak tahu,
apa kamu juga kangen sama aku
250413 ~ 14:49

Wednesday, March 20, 2013

Jatuh Cinta Lagi




Belum usai rasa sakit yang teramat sengit membukit, jamuan lama yang terakit tanpa nama mulai terbesit. Lagi. Dengan debar gemetar pertemuan baru menumbuhkan rindu jua ragu. Ada yang terulang, kuat bak tulang belulang.

Pada labirin-labirinya aku mengadu, bagaimana aku bisa sampai di peraduan jika serpihan itu masih menyeru. Duhai, benarkah itu masa lalu yang menyerbu.

Sayatan-sayatan lalu mendengus. Sejalan, rasa lalu kembali berhembus. Selagu tikus, keduanya menggerogoti hati dengan rakus.

Betapa matinya pilu membencimu, seberapa luluhnya ragu mencintaimu. Dua rasa berarus beda.

Terkubur sudah embun yang menyelinap pada angin. Terbayang, terpontang-panting oleh hembusan. Jatuh, namun tidak riuh. Pecah, berbaur dengan getah.

Sumpah, terlalu lelah. Memulai lagi suatu rapuh yang membuat diri terjatuh.

Sampai suatu musim tanpa nama dengan nostalgia bernama kita; dua anak manusia dari koloni berbeda, saling menatap mesra tanpa kata. Sedetik, dua detik, tiga, empat, menjadi menit, satu, dua, tiga, empat, jam, hari, berubah; minggu, bulan, tahun. Sewindu lalu!



Dari manusia untuk cinta, Saya
penggemar rahasia semesta;
Nindya, Indika

Saturday, February 2, 2013

Cintaku Dalam Pesakitan

Aku terbang hingga langit ketujuh
sendiri mencari hati untuk berlabuh
Aku sudah berkali-kali terjatuh
rasanya aku ingin sekali mengeluh
Kini janji suci telah mati,
yang ada rasa dengki
tak terpungkiri si rasa benci
Berbagai penyakit telah menyerang hati
serasa aku ingin pergi

Tawa yang dulu diagungkan
kini hanya menjadi pajangan
Dengan anggun aku tampil menawan
bak putri dari negeri kejauhan,
mencoba tabah dan merelakan
kenyataan?
Hah, sebuah kebohongan

Siapa yang lemah,
siapa yang kalah,
aku sudah gerah
Satupun tak ada yang membuat pipi memerah
ah, kamu begitu serakah
Tak ada lagi kata yang membuat bibirmu mendesah
mungkin cintamu jua tak akan merekah

Kamu terlalu sering memberi sayat
tubuh mungil tak berdaya bertambah sekarat
aku atau kamu yang terlalu kuat

Bukankah kita mempunyai radar,
tapi mengapa kita tak pernah sadar
Kehangatan telah berubah menjadi goresan,
semakin lama semakin mendalam
Malam yang menghantarkan,
berubah menjadi kelam
Sadar, kita begitu geram

Aku memandang kita dalam album mimpi
berbingkai rindu yang membuatku pilu
berhiaskan  amatah yang terengah-engah
tertulis indah 'semesta kecil bernama kita'


@numandya - 010213 00:54

Wednesday, January 30, 2013

Pria Berkalung Emas

Seorang pria bak pahlawan
berdiri di atas jejeran awan
tidak bermodal ketampanan
tapi, berbagai kebanggaan

Berkalungkan medali emas
di mimbar paling atas
membuat semua hati terperas

Orang disekitar pada meringis
satu pun tak ada yang sinis
semua tertawa manis

Runtutan skenario telah berpadu,
sebuah takdir menyeru
beribu sorakan menyerbu
ya, begitu bangganya menjadi kamu

Salam,
I     


290113 19:37 ~ 300113 08:50