Wednesday, May 1, 2013

Metamorfosis Cinta

Halo, selamat sore. Jangan bosan-bosan tersenyum sekalipun kamu dihantam kesedihan karena senyummu adalah shodaqoh. Posting kali ini aku gunakan untuk menjawab pertanyaan teman-teman dan mungkin di antara kalian ada yang bertanya kenapa aku menulis seperti itu, apa aku sedang dilanda kegalauan anak muda zaman sekarang? Mari di baca dan temukan sebuah jawaban dari teka-teki yang sering aku tanam.


Setiap waktu cinta selalu menyertai langkahmu, sebab cinta adalah bahagia yang sempurna.

Aku menulis itu bukan karena aku sedang jatuh cinta. Tapi karena pengalaman saja sebab aku juga manusia biasa. Kamu akan merasa sangat senang ketika bertemu dengan orang yang kamu cinta, namun luka akan datang secara tiba-tiba ketika melihat dia berdua dengan yang lainnya. Di saat seperti itu ada yang mencoba meluapkan rasa cemburu dengan menangis tersedu dan ada pula yang mengungkapkannya dengan kode melalui akun jejaring sosial bahkan dengan isyarat.

Kamu tahu arti cinta yang sebenarnya? Cinta yang sebenarnya tak akan mengenal 'luka' karena cinta adalah bahagia yang sempurna. Cinta dari Tuhan dan untuk Tuhan misalnya. Tak akan terputus kalau dilandasi iman dan taqwa. Seperti halnya dengan cinta sesama manusia tak akan terputus kalau sama-sama mengerti dan memahami. Eits, tunggu dulu ada kata-kata puitis dari kakak kelasku yang bernama Mbak Fasih Radiana (@fasihrdn), nih: "Cintai dulu Tuhan-Mu. Maka nanti Tuhan sendiri yang akan mempertemukanmu dengan cinta yang sempurna". Kalau kamu mencintai Tuhan-Mu maka Tuhan akan memberimu balasan berupa jodoh yang beriman. Simple kan.

 follow me @indikann


Saat kamu merasa sangat lelah, jangan menyerah. Tapi pasrah dan tersenyumlah.

Kamu pernah merasakan angka dua dalam kehidupanmu? Ada yang pernah juga ada yang belum. Bagaimana sih rasanya ada angka dua dalam kehidupan? Apakah menyakitkan? Iya, menyakitkan. Membuatmu tak bisa tidur semalaman. Membangkitkan rasa kesunyian. Membuat hidup serasa tak nyaman. Bahkan ada yang mengatakan lebih baik mati dari pada hidup tapi selalu tersakiti. Bagiku -1000 untuk orang yang berkata seperti itu. Sebab sama saja dia tidak mensyukuri nikmatnya kehidupan yang telah diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan. 

Apa yang kamu lakukan jika kamu lelah dihujani kata 'dua' dalam kehidupan? Pasrahkan semua pada Tuhan. Sebab hanya Tuhan yang paling tahu mana yang baik atau yang buruk. Tuhan punya cara sendiri untuk menyadarkan hambaNya. Jadi kalau kamu dihujani kata 'dua' berarti Tuhan ingin menyadarkan kamu dari malam petaka. Tuhan ingin kamu bahagia, dengan cara memisahkan dua sejoli yang sedang dimabuk ragu. 

Kamu nggak perlu menangis sampai air mata habis. Tapi kamu perlu bahu untuk menjadi sandaran keluh kesahmu. Sandaran yang paling tepat adalah di sisi Tuhan. Kamu bisa cerita sesuka hati dan sepuas diri pada Tuhan. Karena Tuhan selalu ada untukmu dan selalu setia menemanimu. 

Lihatlah dirimu. Kamu pantas untuk mendapat bahagia. Maka, hapus air matamu. Pancarkan senyum indahmu. Buktikan kalau kamu mampu.

Lihat mataku...
Senyum seperti apa lagi yang perlu aku tunjukkan untuk menutupi kesedihan


Dimana aku ketika jatuh cinta?


 Cinta? Kamu? Aku? Kita?

Adakalanya kamu kehilangan sosokmu ketika merasakan cinta. Menuruti ego si cinta ( re: cinta manusia) karena alasan "Kan aku pengin sama kayak dia. Biar bisa lebih dekat lagi dengannya". Alasan yang sering terucap dari mulut pecandu cinta itu ternyata berakibat fatal sampai bisa merusak moral. Kenapa? Karena kamu bukan dirimu tapi pengaruhnya (re: negatif).

Terkadang kamu lupa dimana kamu yang sebenarnya. Kamu terlalu sibuk jika harus mempelajari lebih dalam tentang apa dan siapa dirimu. Kesibukan barumu untuk melakukan sesuatu yang sama dengan dia bisa menjadi salah satu penyebabnya.

Kamu nggak perlu pura-pura menyukai hal yang sebenarnya nggak kamu suka. Kamu bisa mengatakan sejujurnya kepada dia. Kalau dia mau menerima kamu apa adanya, dia nggak akan marah dengan keteranganmu. Tapi, nggak dipungkiri juga kalau kamu berusaha menyukainya dan akhirnya kamu benar-benar suka. Sekali lagi aku terangkan bahwa pilihan ada di kamu.

follow my instagram and twitter @indikann






@indikann - 010513 17:15 Suatu sore di bulan baru saat matahari hampir terbenam bersama secangkir kopi untuk kesekian kali.

Thursday, April 25, 2013

Rindu Tak Sampai

kalau kamu jadi aku
kamu mau melukis seperti apa
seperti kita yang tak pernah satu
atau seperti aku yang lelah menyeru

kalau aku jadi kamu
aku akan melukis seperti ini
seperti kita yang lupa canda
dan seperti kamu yang tak pernah ada

kalau aku dan kamu jadi kita
kita akan melukis seperti apa
seperti aku yang menari di atas pelangi
dan kamu meluncur dari arasi

kalau kita jadi aku dan kamu
apa yang akan kita lukis
melukis kita yang beda kubu
atau kita yang selalu menggerutu

seperti itu
atau seperti ini

aku bersua dengan rindu
kamu bercumbu dengan madu

kamu menangis menahan pilu
aku bersembunyi di balik pelukan maha meru

kalau aku sudah meronta
kamu bilang aku gila
kalau kamu sedang merebah
aku bilang kamu serakah

kalau aku mengayun rindu
apa kamu juga begitu

kalau kamu menarik janji
apa aku merasa tersakiti

aku berada di peraduan
sendiri menunggu keajaiban
kamu?
kamu masih terjebak pada nostalgia
lalu kapan kita bersama?
saat sigma mulai berlomba
lama!


@indikann
kalau aku kangen sama kamu. kamu mau apa?
aku di sini kangen sama kamu
tapi aku nggak tahu,
apa kamu juga kangen sama aku
250413 ~ 14:49

Wednesday, March 20, 2013

Jatuh Cinta Lagi




Belum usai rasa sakit yang teramat sengit membukit, jamuan lama yang terakit tanpa nama mulai terbesit. Lagi. Dengan debar gemetar pertemuan baru menumbuhkan rindu jua ragu. Ada yang terulang, kuat bak tulang belulang.

Pada labirin-labirinya aku mengadu, bagaimana aku bisa sampai di peraduan jika serpihan itu masih menyeru. Duhai, benarkah itu masa lalu yang menyerbu.

Sayatan-sayatan lalu mendengus. Sejalan, rasa lalu kembali berhembus. Selagu tikus, keduanya menggerogoti hati dengan rakus.

Betapa matinya pilu membencimu, seberapa luluhnya ragu mencintaimu. Dua rasa berarus beda.

Terkubur sudah embun yang menyelinap pada angin. Terbayang, terpontang-panting oleh hembusan. Jatuh, namun tidak riuh. Pecah, berbaur dengan getah.

Sumpah, terlalu lelah. Memulai lagi suatu rapuh yang membuat diri terjatuh.

Sampai suatu musim tanpa nama dengan nostalgia bernama kita; dua anak manusia dari koloni berbeda, saling menatap mesra tanpa kata. Sedetik, dua detik, tiga, empat, menjadi menit, satu, dua, tiga, empat, jam, hari, berubah; minggu, bulan, tahun. Sewindu lalu!



Dari manusia untuk cinta, Saya
penggemar rahasia semesta;
Nindya, Indika

Saturday, February 2, 2013

Cintaku Dalam Pesakitan

Aku terbang hingga langit ketujuh
sendiri mencari hati untuk berlabuh
Aku sudah berkali-kali terjatuh
rasanya aku ingin sekali mengeluh
Kini janji suci telah mati,
yang ada rasa dengki
tak terpungkiri si rasa benci
Berbagai penyakit telah menyerang hati
serasa aku ingin pergi

Tawa yang dulu diagungkan
kini hanya menjadi pajangan
Dengan anggun aku tampil menawan
bak putri dari negeri kejauhan,
mencoba tabah dan merelakan
kenyataan?
Hah, sebuah kebohongan

Siapa yang lemah,
siapa yang kalah,
aku sudah gerah
Satupun tak ada yang membuat pipi memerah
ah, kamu begitu serakah
Tak ada lagi kata yang membuat bibirmu mendesah
mungkin cintamu jua tak akan merekah

Kamu terlalu sering memberi sayat
tubuh mungil tak berdaya bertambah sekarat
aku atau kamu yang terlalu kuat

Bukankah kita mempunyai radar,
tapi mengapa kita tak pernah sadar
Kehangatan telah berubah menjadi goresan,
semakin lama semakin mendalam
Malam yang menghantarkan,
berubah menjadi kelam
Sadar, kita begitu geram

Aku memandang kita dalam album mimpi
berbingkai rindu yang membuatku pilu
berhiaskan  amatah yang terengah-engah
tertulis indah 'semesta kecil bernama kita'


@numandya - 010213 00:54