Saturday, March 7, 2015

Bercermin atau Berkaca?



Kau tadi berkata apa, berkaca? 

Bila aku berkaca, yang kulihat adalah pandangan lain yang bukan aku. Bayanganku hanya sepersekian dari keseluruhan. Terlihat samar.

Saat kaca kuletakkan di depan air keruh, maka keseluruhanku terlihat begitu legam. Hanya ada sekelebat raga yang berguncang sebab angin.

Sebaliknya, saat kuletakkan kaca di hadapana putri raja, mahkota berkilau, gaun sutra berlapis emas, paras cantik nan ayu, anggun terpigura beberapa jengkal di hadapanku. 

Ketika kau memintaku untuk berkaca berarti kau memintaku untuk melihat sekelilingku. Baik apabila aku menaruhnya pada suatu apik. Kelam bila aku meletakkannya di depan jahanam. 

Padahal dengan ketulusan kau memintaku untuk memperbaiki moralku yang sangat bobrok. Mungkin yang kau maksud adalah bercermin, bukan berkaca.


Saat aku bercermin, di hadapanku terpampang aku dengan segala ketidakmampuanku. Kekuranganku nyata terlihat oleh mata. Kalau kau berkenan, kau bisa membantuku membenahi yang kurang tepat dan meluruskan yang melenceng.

Juga kau boleh melihat cerminanmu bersamaku. Aku tidak akan berbicara meletup-letup seperti gelembung air. Aku akan bungkam bak manekinmu. Mainkan aku sepuasmu, sampai kau bisa tertawa lepas karena yang kurindu adalah tawamu. 

Mari, kita sama-sama mendekat pada cermin di hadapa kita. Lihat seberapa tak pantasnya kata-kata kotor mengerubungi jiwa suci. Lihat seberapa anggunnya kita dalam balutan ikatan kedamaian.


Di dalam ruangan pengap dengan udara dari nyala kipas yang tetap itu-itu saja
7 Maret 2015 ~ 20:41
-indikann-

No comments:

Post a Comment