Kau tadi berkata apa, berkaca?
Bila aku berkaca, yang kulihat
adalah pandangan lain yang bukan aku. Bayanganku hanya sepersekian dari
keseluruhan. Terlihat samar.
Saat kaca kuletakkan di depan air
keruh, maka keseluruhanku terlihat begitu legam. Hanya ada sekelebat raga yang
berguncang sebab angin.
Sebaliknya, saat kuletakkan kaca di hadapana
putri raja, mahkota berkilau, gaun sutra berlapis emas, paras cantik nan ayu,
anggun terpigura beberapa jengkal di hadapanku.
Ketika kau memintaku untuk
berkaca berarti kau memintaku untuk melihat sekelilingku. Baik apabila aku
menaruhnya pada suatu apik. Kelam
bila aku meletakkannya di depan jahanam.
Padahal dengan ketulusan kau
memintaku untuk memperbaiki moralku yang sangat bobrok. Mungkin yang kau maksud adalah bercermin,
bukan berkaca.
Saat aku bercermin, di hadapanku
terpampang aku dengan segala ketidakmampuanku. Kekuranganku nyata terlihat oleh
mata. Kalau kau berkenan, kau bisa membantuku membenahi yang kurang tepat dan meluruskan yang melenceng.
Juga kau boleh melihat cerminanmu
bersamaku. Aku tidak akan berbicara meletup-letup seperti gelembung air. Aku
akan bungkam bak manekinmu. Mainkan aku sepuasmu, sampai kau bisa tertawa lepas
karena yang kurindu adalah tawamu.
Mari, kita sama-sama mendekat
pada cermin di hadapa kita. Lihat seberapa tak pantasnya kata-kata kotor
mengerubungi jiwa suci. Lihat seberapa anggunnya kita dalam balutan ikatan
kedamaian.
Di dalam ruangan pengap dengan udara dari nyala kipas yang tetap
itu-itu saja
7 Maret 2015 ~ 20:41
-indikann-
No comments:
Post a Comment