Selamat sore, Tuan.
Kamu dimana?
Sedang apa?
Kapan pulang?
Lupakan pertanyaan tololku. Anggap
aku tak pernah menannyakannya sebab aku bukanlah seorang pengemis. Entahlah
kenapa aku bisa sebodoh itu menanyakan hal-hal tidak penting pada seseorang
yang harga kabarnya begitu mahal, sampai batangan emas pun tak mampu membeli
sebuah kabar. Mungkin hari-harimu dijejali banyak kesibukan hingga lupa kalau
ada yang sedang harap-harap cemas menanti balasan pesan.
Aku paham suatu hari nanti kita
akan sama-sama lupa, yang kita ingat hanyalah yang berada di dekat kita. Bukan aku
maupun kau. Aku mengerti suatu saat nanti kita akan tenggelam dalam kesibukan. Sampai
lupa kalau kita pernah saling membutuhkan. Aku sadar suatu waktu nanti salah
satu dari kita akan mengangkat tangan saat ditawan keadaan. Menyerah
meninggalkan kisah banyak kenangan. Begitulah sajak hipotesaku.
Benar saja, tebakanku tidak
meleset, jauh hari sebelum hal ini terjadi aku mencoba menguatkan hati untuk berani
berjumpa lagi dengan hal yang sangat aku takuti. Namun kenyataan tak semudah
itu. Aku masih terlalu rapuh untuk menyalami kepergian, meskipun kepergian itu
sudah berada tepat di depan mata. Rasanya ingin segera menutup pintu lalu
meringkuk di pojokan ruang.
Kau lupa ada yang sedang berusaha
kabur dari kenyataan menyakitkan dengan memejamkan mata atau dengan melibatkan
diri dalam berbagai proses kegiatan. Begitulah caraku melupa. Bukan
melupakanmu, tetapi melupakan kabarmu. Sebab aku tak ingin berlama-lama
menangis dalam diam, begitu senyap.
Kau perlu tahu, aku tidak meminta
barang. Tidak ingin bunga. Tidak ingin coklat. Tidak ingin boneka. Hanya butuh
waktumu yang katanya lebih dari sekedar hanya.
With love,
Anak kecil
- indikann -
17 Agustus 2015
- indikann -
17 Agustus 2015
No comments:
Post a Comment