Thursday, November 7, 2013

Flower Crown


Do you mean the girl who has a flower crown was I? 
 
Sebelum pementasan drama, SMP Negeri 9 Yogyakarta 2013
Mau bicara apalagi setelah acap kali meruntuhkan nyali. Kata-katamu makbul menikam afeksi. Ini itu, semuanya memaksaku mengungkapkan kejujuran kalau aku terpukau pada pesonamu. Jujur saja, kamu memang berbeda dari laki-laki  lainnya. Kamu lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca daripada berkeliaran tanpa tujuan. Lebih dari itu, kamu ditakdirkan memahami yang ingin aku pelajari. Aku memintamu untuk mengajariku perlahan-lahan, kali saja ini kesempatan untuk menyelami kehidupanmu lebih dalam.

Aku selalu suka berada di sampingmu. Jalan berdampingan denganmu apalagi, membuat hatiku teduh tanpa komplikasi. Kepribadianmu berhasil membuatku luluh. Caramu berbicara pada orang yang lebih tua menandakan betapa berartinya pemilik sejatimu. Suaramu juga lucu apabila anak kecil merengek meminta dibelikan permen. Kamu bisa mengimbangi pola pikir makhluk Tuhan berusia jauh di bawahmu. Barangkali ini yang membuatku mengurungkan niat undur diri.

Kerap kali kamu menyapaku di bawah rintikan hujan. Ingin rasanya aku berkata mari kita berjalan menembus gerimis sembari meninggalkan tangis lalu menggantinya dengan cerita manis.Boleh kan, sayang?
Maybe it is our imperfections which make us so perfect for one another. - Emma - See more at: http://www.gen22.net/2013/03/kata-kata-cinta-romantis-bahasa-inggris.html#sthash.sNQfm6xf.dpuf

 "When you love someone, and you love them with your heart, it never disappears" - Forget Paris
When you love someone, and you love them with your heart, it never disappears. - Forget Paris - See more at: http://www.gen22.net/2013/03/kata-kata-cinta-romantis-bahasa-inggris.html#sthash.SAH4GFYP.dpuf
Maybe it is our imperfections which make us so perfect for one another. - Emma - See more at: http://www.gen22.net/2013/03/kata-kata-cinta-romantis-bahasa-inggris.html#sthash.sNQfm6xf.dpuf
Bisakah sekali saja kamu tidak meluluh lantahkan hatiku. Membuatku tersipu pada setiap perkataanmu. Selalu saja kamu melempar perasaan secara tersurat dalam setiap rayuan lugumu. Bisakah sekali saja kamu tak menyapaku, aku khawatir jika ada yang memperhatikan kita. Hatiku tak karuan, takut mengecewakan orang.

You don't know how I'm so fall in love with flower.
Mereka yang mengagumimu mau kamu apakan. Mau kamu telantarkan? Coba gunakan perasaanmu sekarang juga, Tuan. Bayangkan kalau kamu berada pada posisi pengagum rahasiamu. Bagaimana rasanya jika kamu tahu orang yang kamu kagumi beradu kebahagiaan dengan orang yang kamu kenal. Sakit. Serasa hatinya terisris-iris. Bisa jadi mereka ingin mati bunuh diri. Segala kemungkinan bisa terjadi.

Sebentar saja kamu lupakan tentang kita. Tolehkan pandangan matamu pada mereka. Aku yakin mereka akan bahagia. Beri mereka penjelasan tentang kita. Tentang kita yang diam-diam jatuh cinta. Katakan pada mereka bahwa kita tak mejalin hubungan lebih dari apa yang mereka pikirkan. Aku tidak takut akan kehilanganmu, karena jodoh sudah diatur langsung oleh Tuhan. Jangan takut akan kepergianku. Kalau Tuhan sudah menakdirkan bersama, kita tak bisa berbuat apa-apa. Jalani saja dulu dengan senyuman. Pasti ada balasan dari Tuhan.

Salam karib,
Nindya Indika
7 November 2013 - 17:40
Teruntuk siapa saja tanpa pengecualian kamu,
 yang membuat darah di nadiku membeku.

Sunday, November 3, 2013

Pencuri Hati #1

Selamat sore, Tuan!

Masihkah ada serpihan cinta yang kamu deskripsikan satu bulan berselang? Aku dengar dari pelosok ruangan, kamu sedang berpadu dengan sosok baru. Sosok yang sampai saat ini belum aku kenal. Siapa dia, sayang? Mari kenalkan dia padaku. Aku tak akan membunuhnya, aku hanya ingin mengakrabinya seperti orang kebanyakan.

Masihkah ada sapaan setiap aku melirikmu? Dulu, tanpa kuminta sekalipun kamu datang menghampiriku lalu duduk disampingku dan menceritakan segala yang kamu harapkan.


3 September 2013 - 17:02

Nindya, Indika
Saat gerimis jatuh membasahi bentala

Seuntai Kemujuran



Tanpa bait-bait puisi aku tak bisa meriwayatkan kebahagiaan. Mereka terlalu istimewa dalam ruang di hatiku. Satu senyuman saja tak akan pernah cukup untuk menandakan betapa berharganya arti bahagia. Entah dengan siapa, bahagia selalu terselip di antara runtutan abjad yang tak pernah usia. Di tengah-tengah kesedihanpun kebahagiaan selalu muncul dan menjadi persinggahan utama. 

Aku tak berani melepaskan kebahagiaan begitu saja tanpa alasan. Tunggu, bahagia selalu mengikuti langkahmu. Kapan dan dimanapun.  Percayalah, sesuatu yang kamu anggap sedih sebenarnya merupakan kebahagiaan. Tinggal bagaimana caramu mengartikan. Intinya bahagia akan menyertai langkah kahuripan.

Di antara luruhan air mata ada saja bahagia yang tercipta. Bisa di akhir juga bisa langsung seketika. 

Aku bisa tertawa sesuka hatiku, sampai gendang telingaku sendiri pecah mendengear gelegar tawa yang aku lontarkan begitu saja. Aku bisa tersenyum sambil memamerkan betapa beruntungnya menjadi aku kala itu. Namun, kalian tak tahu bahwa senyum dan tawaku bukan berasal dari hati. Karena bisa jadi aku tak sepenuhnya bahagia. 


Kebahagiaan? Sederhana;

Bahagiaku datang dari hati lalu merambat ke sekujur tubuhku. Menginginkanku melempar kebahagiaan secara refleks pada orang sekitar. Aku akan melemparnya secara Cuma-Cuma tanpa meminta imbalan sedikitpun. 

Senyum lepas yang aku simpul setiap saat menandakan bahagianya aku dengan kalian. Iya, ini sungguhan. Aku tak berdusta jika diminta berbicara tentang bahagia. Benar-benar dari afeksi. 


031113 ~ Di antara ripuhnya kehidupan aku ingin menulis kemujuran. Selamat menelan!

Monday, October 14, 2013

Mencintai Kekasih Orang


Jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Sedari tadi aku masih membolak-balikkan lembar demi lembar catatan hujan. Aku mencoba mengurai makna dari setiap kalimat tersebut, yang aku temukan hanyalah deskripsi tentang kamu. Entah mengapa catatan itu seakan merekap jejak hidupku.
***

Aku pernah mencintai kekasih orang. Mencintai yang bukan menjadi hakku.

Bekas tragedi lebam kebiruan semalam masih merumat didadaku. Membuahkan perasaan tak nyaman menghantuiku. Kebingungan merajalela, aku tak tahu harus menyatakan dengan spontan atau malah menyimpannya dalam-dalam. 

@indikann
Kalau aku menyatakan, aku harus siap menerima resiko di hari kemudian. Semisal disebut wanita tak bermoral bahkaan bisa saja aku disebut perebut kekasih orang. Padahal aku tak tahu apakah ada perasaan sama yang tersimpan di dalam lubuk hatinya. Aku terlalu optimis bakal disebut perusak. Bisa jadi mereka memaklumi perasaanku, jika mereka mengerti bahwa jatuh cinta itu kebebasan... Jika tidak, aku menjadi acuh meresapi pikiran tanpa pertimbangan.

Seandainya hatiku seluas samudera, aku akan berusaha mecintai diam-diam. Jangan sampai ada yang tahu, kecuali Tuhan. Sepertinya ini hanya mimpi, nyatanya aku seperti manusia kebanyakan. Bisa disebut juga manusia aneh. Sebab aku tak memiliki kesabaran lebih untuk melihatnya bersanding bahagia dengan abdi Tuhan yang lain.

Sesekali aku merintih sambil menengadahkan tangan meminta keringanan. Ketahuilah Tuhan, aku benci dibuat seperti ini. Bukannya aku tak mensyukuri pemberianmu atau bagaimana. Tapi... aku sudah berkali-kalai jatuh pada lubang yang sama. Pernah aku mencoba menghindar tetapi sama saja. Aku tak tahan. 

Jatuh cinta itu kebebasan. Etika jangan lupa dipraktekkan. 

Sukmaku berteriak memanggil namamu. Memanggil yang seharusnya tak pernah kupanggil. Penyesalan tak menampakkan kesalahan, menandakan bahwa aku tak menyesal bisa mencintaimu. Walapaun aku tak bisa mencintaimu secara gamblang. Karena aku harus menjaga perasaan orang. 

Kembali pada takdir manusia diciptakan; mencintai dan dicintai. Tuhan memberiku kebebasan untuk mencintai seseorang sepanjang hidupku. Termasuk kamu yang semestinya tak pernah kukenal. Pencipta Alam tak melarangku untuk menyatakan juga mencintai dalam bisu. Tapi satu, aku juga perlu (wajib) menjaga tingkah lakuku di depanmu. Jangan sampai perilakuku merubah pola pikirmu. Lalu, kau menganggapku sebagai manusia terhina sepanjang masa.

Aku tak perlu bersusah payah membuat berita dusta. Aku tak butuh itu, sebab aku masih ber-etika seperti layaknya manusia yang lainnya. Aku tak ingin termakan kata-kataku sendiri, sehingga aku terperosok ke dalam permainan hampa ini. 

Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Aku membiarkan rasa itu tumbuh sambil menjalankan aktivitasku seperti hari-hari sebelumnya; bermain bersama riuhnya gemuruh lalu berlari di bawah teduhnya nyanyian hujan. Dan kamu sudah sepantasnya berbahagia dengan dia. Aku tak akan mengusik ketentraman kalian.


Salam sejawat,
Nindya, Indika

141013 ~ Mencintaimu dalam diam bukan pilihanku. Aku juga tak ingin menyatakannya. Maka, aku biarkan rasa ini berjalan sebagaimana mestinya. Entah sampai kapan...