Tanpa bait-bait puisi
aku tak bisa meriwayatkan kebahagiaan. Mereka terlalu istimewa dalam ruang di
hatiku. Satu senyuman saja tak akan pernah cukup untuk menandakan betapa
berharganya arti bahagia. Entah dengan siapa, bahagia selalu terselip di antara
runtutan abjad yang tak pernah usia. Di tengah-tengah kesedihanpun kebahagiaan
selalu muncul dan menjadi persinggahan utama.
Aku tak berani melepaskan
kebahagiaan begitu saja tanpa alasan. Tunggu, bahagia selalu mengikuti
langkahmu. Kapan dan dimanapun.
Percayalah, sesuatu yang kamu anggap sedih sebenarnya merupakan
kebahagiaan. Tinggal bagaimana caramu mengartikan. Intinya bahagia akan
menyertai langkah kahuripan.
Di antara luruhan air mata ada
saja bahagia yang tercipta. Bisa di akhir juga bisa langsung seketika.
Aku bisa tertawa sesuka hatiku,
sampai gendang telingaku sendiri pecah mendengear gelegar tawa yang aku
lontarkan begitu saja. Aku bisa tersenyum sambil memamerkan betapa beruntungnya
menjadi aku kala itu. Namun, kalian tak tahu bahwa senyum dan tawaku bukan
berasal dari hati. Karena bisa jadi aku tak sepenuhnya bahagia.
Kebahagiaan? Sederhana;
Bahagiaku datang dari hati lalu
merambat ke sekujur tubuhku. Menginginkanku melempar kebahagiaan secara refleks
pada orang sekitar. Aku akan melemparnya secara Cuma-Cuma tanpa meminta imbalan
sedikitpun.
Senyum lepas yang aku simpul
setiap saat menandakan bahagianya aku dengan kalian. Iya, ini sungguhan. Aku
tak berdusta jika diminta berbicara tentang bahagia. Benar-benar dari afeksi.
031113 ~ Di antara ripuhnya kehidupan aku ingin menulis kemujuran. Selamat menelan!
No comments:
Post a Comment