Sunday, November 3, 2013

Seuntai Kemujuran



Tanpa bait-bait puisi aku tak bisa meriwayatkan kebahagiaan. Mereka terlalu istimewa dalam ruang di hatiku. Satu senyuman saja tak akan pernah cukup untuk menandakan betapa berharganya arti bahagia. Entah dengan siapa, bahagia selalu terselip di antara runtutan abjad yang tak pernah usia. Di tengah-tengah kesedihanpun kebahagiaan selalu muncul dan menjadi persinggahan utama. 

Aku tak berani melepaskan kebahagiaan begitu saja tanpa alasan. Tunggu, bahagia selalu mengikuti langkahmu. Kapan dan dimanapun.  Percayalah, sesuatu yang kamu anggap sedih sebenarnya merupakan kebahagiaan. Tinggal bagaimana caramu mengartikan. Intinya bahagia akan menyertai langkah kahuripan.

Di antara luruhan air mata ada saja bahagia yang tercipta. Bisa di akhir juga bisa langsung seketika. 

Aku bisa tertawa sesuka hatiku, sampai gendang telingaku sendiri pecah mendengear gelegar tawa yang aku lontarkan begitu saja. Aku bisa tersenyum sambil memamerkan betapa beruntungnya menjadi aku kala itu. Namun, kalian tak tahu bahwa senyum dan tawaku bukan berasal dari hati. Karena bisa jadi aku tak sepenuhnya bahagia. 


Kebahagiaan? Sederhana;

Bahagiaku datang dari hati lalu merambat ke sekujur tubuhku. Menginginkanku melempar kebahagiaan secara refleks pada orang sekitar. Aku akan melemparnya secara Cuma-Cuma tanpa meminta imbalan sedikitpun. 

Senyum lepas yang aku simpul setiap saat menandakan bahagianya aku dengan kalian. Iya, ini sungguhan. Aku tak berdusta jika diminta berbicara tentang bahagia. Benar-benar dari afeksi. 


031113 ~ Di antara ripuhnya kehidupan aku ingin menulis kemujuran. Selamat menelan!

No comments:

Post a Comment