Tuesday, February 11, 2014

Kekasih Lama


Lama tak jumpa dengan kekasih lama. Apa kabar ia? Masihkah menyimpan rahasia yang dirajut bersama atau malah sudah (sengaja) melupa. Entah kekasih yang keberapa, yang membuatku merintih sedemikian perih.    Dia berhasil membuatku merasa bersalah sebab aku minta berpisah. Mungkin yang kurasakan ialah penyesalan teramat dalam. Sungkan rasanya menghubungi duluan. Takut dibilang sok perhatian setelah menggulung jutaan impiannya bersamaku.


Jam istirahat, 11 Februari 2014 ~ 10:11

Sunday, February 9, 2014

Masihkah Kau Menganggapku Sebagai Kekasihmu?


Aku mulai tak suka ketika ada yang mendekatimu selain aku. Menanyakan setiap detik keadaanmu sampai memenuhi pesan telepon genggammu melebihi pesan dariku. Biar saja kalau dibilang cemburu berlebihan, bukankah begini yang namannya takut kehilangan? Aku tidak over protective. Aku masih membebaskanmu dalam berteman. Tapi ini terlalu menguras kesabaran. Menyayat kesetiaan yang terjalin satu tahun silam.

Rasa sakit yang merumah dalam lubuk hatiku tak bisa kuutarakan lewat ucapan belaka. Maka, ku tulis saja sajak luka kita. Ingin aku memakimu, memarahimu tapi sulit. Kekuatan cinta membuatku urung melukaimu. Akibatnya kurasakan kesakitan sendirian. Menelan setiap inci getirnya kisah percintaan.

Katamu, kesibukan yang membuat kita jarang bertannya kabar. Meluangkan waktu hanya untuk memberitahu keadaan saja sukar dilakukan. Begitu sibuknya kamu sampai aku harus melakoni kisah sendiri. Apa tidak ada waktu semenit saja untuk mendengar ceritaku? Apa kau tak merasa rindu, Sayang? 

Berkali-kali aku mendengar kabar kalau ada 'yang lain' di kehidupanmu. Siapa, Sayang? Mengapa kau tak mengatakannya kepadaku? Apa dia berada pada tingkatan lebih tinggi dariku di hatimu? Aku tidak marah jika kau mengenalkannya baik-baik kepadaku. Walaupun aku tahu, aku akan meratapi tragedi macam ini. Setidaknya kamu sudah jujur. Itu lebih baik daripada bermain api di belakangku; kekasihmu sendiri. 

Apa kau tega melihatku penasaran begini? Merasa sepi padahal memiliki. Bukankah dulu kita pernah berjanji untuk saling mengerti? Lalu apa ini? Mau bilang kalau awal mulannya karena aku? Mengapa kau tidak bilang? Takut menyakitiku? Jangan takut, Sayang. Aku memilihmu untuk sebuah keseriusan. 

Apa berita itu benar, orang itu kamu jadikan pelampiasan sebab kamu sudah tak tahan? Atau malah dia yang menggodamu untuk menjauh dariku? Sayang, jujurlah. Tak perlu takut, aku bukan harimau yang bisa memakanmu hidup-hidup.


To : My Beloved Heart


Aku tak memaksamu untuk mengataknnya sekarang.
Tapi, aku harap kamu memihak pada kejujuran. 
Sebab aku sudah menahan sakitnya pendustaan begitu lama.
Mungkin aku tidak bisa mengatakannya kepadamu secara langsung karena aku takut kamu naik pitam.

Kau tak tahu kan, disela-sela menunggu kabar aku suka menggambar semua tentangmu. Aku tak mau rasa cinta dihatiku berkurang sedikitpun. 
Ingin rasanya cinta itu bertambah setiap harinya. 
Maka, segala yang membuatku selalu mencintaimu kulakukan untuk mengusir penat sekaligus mengobati rindu pada kekasih tersayang; kamu.


9 Februari 2014, 23:44.

Kadung Ada Rasa


Gila, aku sudah gila. Dibuat gila. Tidak waras.

Dimana-mana tersenyum sendiri. Membayangkan kejadian itu terulang lagi. Rumus fisika kuhiraukan begitu saja untuk merajut mimpi-mimpi bersamamu. Merajut sendiri, mengarang pertemuan di suatu tempat. Menulis alur pertemuan kita nantinnya. Membuat skenario pembicaraan. 

Apa yang Guru katakan tak ku serap dengan benar. Tak apa, nanti kupelajari di rumah saja, kilahku. Mataku asyik terpejam mengasingkan diri dari keramaian. Telingaku kututup total dari perkataan meyakitkan. Rumus jitu pada melayang. Berterbangan mencari pelabuhan. Sementara otakku sibuk mengarang cerita belaka. Bodoh, harusnya aku memahami pelajaran.


Kadung jatuh cinta. Dasar anak muda.

Sabtu sore, 2014

Sore ini ada acara dengan teman lama. Setelah pulang sekolah, sekitar pukul 14:30 langsung kupersiapkan barang-barang yang akan ku bawa. Aku tak menduga kalau ada lelaki lampau di sana, kalaupun ada seharusnya aku biasa saja. Cerita lalu juga sudah terkubur amat dalam. Lebih tepatnya kuhilangan jejaknya dari kisahku. Seharusnya aku bisa mengatur degup jantungku saat kawanku berkata:

"Ada dia juga lho!"
 "Dia udah di Jogja, ya?"

Salah omong. Sejak dua tahun lalu dia sudah berada di Jogja. Berita itu sudah menyebar ke telinga setiap kawan yang mengenalnya. Termasuk aku.

"Bukannya dulu kamu yang bilang ke aku kalau dia udah di Jogja?"

Salah tingkah.
Meringis.
Diam.

Aku pernah bilang begitu padamu? Sungguh? Aku lupa. Mau menjawab juga tidak bisa. Lidahku kelu. Kata-kata diotakku membeku. Diam saja sembari mengalihkan pembicaraan. Ada sesuatu janggal yang aku tutupi. Cinta tahun lalu masihkah merumah di dadaku... Sudah lama aku tidak menggubrisnya. Ada juga yang berhasil menggantikannya. Lalu ini apa? Hanya rindu yang menggebu setelah bertahun-tahun tidak bertemu, bukan?

"Itu dia! Samperin gih."

Ha, aku? Kenapa harus aku?

Tingginya.... 

Kakiku sama sekali tak membawa tubuhku ke arahnya. Aku tetap duduk terdiam sambil mendengarkan teman lelakiku memanggil-manggil namanya. Meminta segera kemari bergabung dengan kami. 

"Hai!" Sapanya

Giliranku bersalaman. Gila, aku sebahunnya. Ada tatapan menggetarkan di matannya.

Demi apa, aku pura-pura biasa mencoba menutupi setiap letupan di hatiku. Semudah ini yang namanya jatuh cinta lagi? Sekilat ini? Tidak. Hanya perasaan sementara saja. Iya. Pasti begitu. Kalau iya mau apa? Mau.... Hm.

Januari-Februari, 2014.

Saturday, February 1, 2014

...

Semudah ini yang namanya jatuh cinta?

Batu, 1 Februari 2014.