Gila, aku sudah gila. Dibuat gila.
Tidak waras.
Dimana-mana
tersenyum sendiri. Membayangkan kejadian itu terulang lagi. Rumus
fisika kuhiraukan begitu saja untuk merajut mimpi-mimpi bersamamu.
Merajut sendiri, mengarang pertemuan di suatu tempat. Menulis alur
pertemuan kita nantinnya. Membuat skenario pembicaraan.
Apa yang Guru katakan tak ku serap dengan benar. Tak apa, nanti kupelajari di rumah saja,
kilahku. Mataku asyik terpejam mengasingkan diri dari keramaian.
Telingaku kututup total dari perkataan meyakitkan. Rumus jitu pada
melayang. Berterbangan mencari pelabuhan. Sementara otakku sibuk
mengarang cerita belaka. Bodoh, harusnya aku memahami pelajaran.
Kadung jatuh cinta. Dasar anak muda.
Sabtu sore, 2014
Sore ini ada acara dengan teman lama. Setelah pulang sekolah, sekitar pukul 14:30 langsung kupersiapkan barang-barang yang akan ku bawa. Aku tak menduga kalau ada lelaki lampau di sana, kalaupun ada seharusnya aku biasa saja. Cerita lalu juga sudah terkubur amat dalam. Lebih tepatnya kuhilangan jejaknya dari kisahku. Seharusnya aku bisa mengatur degup jantungku saat kawanku berkata:
"Ada dia juga lho!"
"Dia udah di Jogja, ya?"
Salah omong. Sejak dua tahun lalu dia sudah berada di Jogja. Berita itu sudah menyebar ke telinga setiap kawan yang mengenalnya. Termasuk aku.
"Bukannya dulu kamu yang bilang ke aku kalau dia udah di Jogja?"
Salah tingkah.
Meringis.
Diam.
"Dia udah di Jogja, ya?"
Salah omong. Sejak dua tahun lalu dia sudah berada di Jogja. Berita itu sudah menyebar ke telinga setiap kawan yang mengenalnya. Termasuk aku.
"Bukannya dulu kamu yang bilang ke aku kalau dia udah di Jogja?"
Salah tingkah.
Meringis.
Diam.
Aku pernah bilang begitu padamu? Sungguh? Aku lupa. Mau menjawab juga tidak bisa. Lidahku kelu. Kata-kata diotakku membeku. Diam saja sembari mengalihkan pembicaraan. Ada sesuatu janggal yang aku tutupi. Cinta tahun lalu masihkah merumah di dadaku... Sudah lama aku tidak menggubrisnya. Ada juga yang berhasil menggantikannya. Lalu ini apa? Hanya rindu yang menggebu setelah bertahun-tahun tidak bertemu, bukan?
"Itu dia! Samperin gih."
Ha, aku? Kenapa harus aku?
Tingginya....
Kakiku sama sekali tak membawa tubuhku ke arahnya. Aku tetap duduk terdiam sambil mendengarkan teman lelakiku memanggil-manggil namanya. Meminta segera kemari bergabung dengan kami.
"Hai!" Sapanya
Giliranku bersalaman. Gila, aku sebahunnya. Ada tatapan menggetarkan di matannya.
Demi apa, aku pura-pura biasa mencoba menutupi setiap letupan di hatiku. Semudah ini yang namanya jatuh cinta lagi? Sekilat ini? Tidak. Hanya perasaan sementara saja. Iya. Pasti begitu. Kalau iya mau apa? Mau.... Hm.
Januari-Februari, 2014.
No comments:
Post a Comment