Kita sedekat ini, sungguh? Aku masih tak percaya.
Dunia terlalu mungil bagi
pertemuan yang tak terdamba. Segala sesuatunya berlangsung di luar rencana.
Kejutan Tuhan selalu mengagetkan dan beralasan.
Ketakutanku atas hubungan tak
bernama masih menyelimuti perasaan di hati yang juga tanda tanya. Keyakinan
yang kubuat sendiri perlahan luntur menggempur kekokohan sebuah prinsip.
Pembelaan demi pembelaan kuperjuangkan untuk mencari dukungan. Namun, sia-sia.
Sorot mata tak bisa menyangkal tiap debar jantung yang berdetak tak beraturan.
Mungkin aku tidak termasuk dalam
daftar nama anak manusia yang jago menyembunyikan perasaannya. Cari saja kalau
sempat. Kalau kamu mau dengan sabar mencari siapa sebenarnya penulis prosa yang
tak kunjung memahami perasaan yang tumbuh di kalbunya.
Boleh jadi segala yang kurasa tak
sepenuhnya kaurasa. Tentang satu nama yang sejak beberapa saat lalu mengganti
kata ‘Dia’ dalam perbincanganku dengan Tuhan. Kau boleh tak percaya sebab aku
juga sama. Awalnya kukira artian kita hanya sebatas aku dan kamu. Lama-lama
mulai terbiasa dengan perbedaan yang membuat kita dipertanyakan, juga
kebersamaan yang membuatku tak betah pergi terlalu jauh.
Sebuah prinsip yang kusematkan,
dengan mudahnya kuhancurkan dengan sikapku sendiri. Ini bukan soal jatuh cinta
dan semacamnya. Keresahanku jatuh pada sebuah titik yang membuatku takut untuk
bangkit. Betapa tak berdayanya aku di bawah payung resolusi yang kubuat
sendiri.
Tuhan,
sebenarnya akau yang Engkau inginkan? Ingin mengetahui seberapa besar
keinginanku untuk bertahan atau memang sengaja menyuguhiku hati untuk berlabuh?
20:25
18 Oktober 2014
-indikann-
No comments:
Post a Comment