Hidup dan pilihan sudah menjadi
satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selama roda kehidupan masih berjalan, kita
akan selalu disuguhi berbagai keputusan. Entah itu sesuai dengan kemauan atau
hanya keputusan sepihak yang menyisakan kelabu di hari biru.
Pernah nggak sih kamu bingung
sama pilihan yang disajikan untukmu?
Bukan hanya pernah lagi, tapi
sering. Hal itu membuat pikiran melayang tak karuan. Terlebih bila keputusan
itu mempengaruhi berbagai sisi. Bisa
semalaman merenungkan, mempertimbangkan, meresapi. Semacam lebih rendah
daripada depresi namun lebih tinggi dari kebingungan. Itu yang dirasakan.
Apa yang kamu lakukan dengan
pilihanmu?
Begini, makanan yang tersaji di
meja makan lama-lama akan menjadi basi bila tak segera kaulumat dengan penuh
perasaan. Pilihan juga begitu. Ia akan segera jatuh masa ketika kau
terus-menerus mendiamkannya.
Sebab itu kau tak lagi punya
alasan untuk membiarkannya menghilang tertelan kebimbangan. Bila memang jalan
terang tak kautemui pada perdebatan logika dan perasaan, kau bisa bertanya pada
siapa saja yang menurutmu pantas kauajukan pertanyaan. Tak terkecuali Tuhan
yang selalu ada meski kau menjauhiNya. Jangan tunggu sampai kaumenelan
kekecewaan.
"Pengorbanannya saja tidak kira-kira, jangan salah kalau hasilnya membabi buta." - Repost, awal tahun, 2014 @indikann
Lalu mana yang kamu pilih?
Entah.
Entah.
Entah.
Itu bukan jawaban.
Selalu ada keputusan terbaik di
antara berbagai pilihan. Pilihlah yang membuatmu merasa nyaman tanpa melupakan
orang-orang di sekelilingmu. Walau kadang ada yang dikorbankan untuk sebuah
keputusan. Pengorbananmu tak akan sia-sia. Akan ada hadiah terbaik untuk mereka
yang selalu berusaha dan bersyukur atas apa yang telah diperolehnya.
Kalau ada resiko gimana?
Itu tantangannya. Tantangan terkeren, terhebat, termenantang sepanjang zaman. Selalu ada hasil terbaik untuk usaha terhebat. Sesederhana itu menyikapi sebuah tantangan. Lalu apa yang membuat kita tumbang di tengah jalan? Sebuah cara yang kurang tepat membuat kita jatuh sebelum waktunya.
Saya menulis ini
disela-sela waktu persiapan ujian. Bukan tanpa sebab, saya merasa buta arah
dengan sesuatu bernama memilih. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk
menomorsekiankan beberapa hal yang membuat pikiran saya bercabang. Awalnya
memang sulit, sampai membuat saya sukar terlelap di malam hari. Setelah
terbiasa, keinginan untuk hal-hal (yang menurut saya) tidak terlalu penting itu
perlahan menghilang walau kadang muncul ke permukaan dan membuat saya ingin
mencekik keputusan saya sendiri.
30 Oktober 2014
18:21
-indikann-
No comments:
Post a Comment