Saturday, November 15, 2014

Sebuah Pilihan


Hidup dan pilihan sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selama roda kehidupan masih berjalan, kita akan selalu disuguhi berbagai keputusan. Entah itu sesuai dengan kemauan atau hanya keputusan sepihak yang menyisakan kelabu di hari biru.
Pernah nggak sih kamu bingung sama pilihan yang disajikan untukmu?

Bukan hanya pernah lagi, tapi sering. Hal itu membuat pikiran melayang tak karuan. Terlebih bila keputusan itu mempengaruhi berbagai sisi. Bisa  semalaman merenungkan, mempertimbangkan, meresapi. Semacam lebih rendah daripada depresi namun lebih tinggi dari kebingungan. Itu yang  dirasakan.


Apa yang kamu lakukan dengan pilihanmu?

Mendiamkannya berhari-hari di sudut yang sama. No, I’m not.
Begini, makanan yang tersaji di meja makan lama-lama akan menjadi basi bila tak segera kaulumat dengan penuh perasaan. Pilihan juga begitu. Ia akan segera jatuh masa ketika kau terus-menerus mendiamkannya. 

Sebab itu kau tak lagi punya alasan untuk membiarkannya menghilang tertelan kebimbangan. Bila memang jalan terang tak kautemui pada perdebatan logika dan perasaan, kau bisa bertanya pada siapa saja yang menurutmu pantas kauajukan pertanyaan. Tak terkecuali Tuhan yang selalu ada meski kau menjauhiNya. Jangan tunggu sampai kaumenelan kekecewaan.


"Pengorbanannya saja tidak kira-kira, jangan salah kalau hasilnya membabi buta." - Repost, awal tahun, 2014 @indikann


Lalu mana yang kamu pilih?

Entah.

Entah.

Entah.

Itu bukan jawaban.

Selalu ada keputusan terbaik di antara berbagai pilihan. Pilihlah yang membuatmu merasa nyaman tanpa melupakan orang-orang di sekelilingmu. Walau kadang ada yang dikorbankan untuk sebuah keputusan. Pengorbananmu tak akan sia-sia. Akan ada hadiah terbaik untuk mereka yang selalu berusaha dan bersyukur atas apa yang telah diperolehnya. 


Kalau ada resiko gimana?

Itu tantangannya. Tantangan terkeren, terhebat, termenantang sepanjang zaman. Selalu ada hasil terbaik untuk usaha terhebat. Sesederhana itu menyikapi sebuah tantangan. Lalu apa yang membuat kita tumbang di tengah jalan? Sebuah cara yang kurang tepat membuat kita jatuh sebelum waktunya.



Saya menulis ini disela-sela waktu persiapan ujian. Bukan tanpa sebab, saya merasa buta arah dengan sesuatu bernama memilih. Sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk menomorsekiankan beberapa hal yang membuat pikiran saya bercabang. Awalnya memang sulit, sampai membuat saya sukar terlelap di malam hari. Setelah terbiasa, keinginan untuk hal-hal (yang menurut saya) tidak terlalu penting itu perlahan menghilang walau kadang muncul ke permukaan dan membuat saya ingin mencekik keputusan saya sendiri. 


30 Oktober 2014
18:21
-indikann-

No comments:

Post a Comment