Friday, November 29, 2013

Kau Tanpa Aku

Pernahkah kau berlari di bawah rintikan hujan mengais masa lalu? Jatuhnya menimbulkan senandung sepi. Beralunan akor simponi. Menghindarkanmu dari simpati. Menimbulkan riuh dalam hati. Setelah berhasil mencuri afeksi, kepergianmu bukan lagi fiksi. Terlihat nyata akibat desakan benci. Membenci kekasihmu sendiri. Kurang apalagi.


Kau...
Apa kabar setelah sekian lama tidak bertegur sapa
Masih tidak menyukai matematika,
atau sudah hanyut dalam kayuhan roda sepeda

Kau...
Masihkah melompat seratus kali dalam sehari,
membuatku khawatir dengan lebam di bahumu
Selalu begitu,
mengatakan baik-baik saja padahal ada luka

Kau...
Teman berbincang pukul dua dini hari,
saat aku terbangun dan tak bisa terlelap lagi
Menemaniku dengan keikhlasan hati

Aku tidak sedang merayu menagih janjimu untuk segera kembali. Hatiku sudah terkunci bagi laki-laki yang telah menyelingi. Membuatku merasakan angka dua yang tak pernah aku harapkan. Terlalu sukar jika harus menyusun kepercayaan dari awal. Aku tidak menyangkal kalau kamu berubah. Setelah perpisahan kita, kamu kembali seperti semula. Melakoni hidup seperti biasanya, kemana-mana sesuai kemauan diri. 

Kemarin, kudengar dari seorang kawan kalau kamu merasakan apa yang pernah kurasakan denganmu. Tapi kamu terlihat lebih tegar dari aku. Tanpa rayuan gombal dan air mata yang membasahi pipimu. Bahkan, tanpa ambil pusing kamu langsung mengakhiri hubungan dengan kekasihmu saat itu juga.

Bagaimana rasanya? Sakit betul, kan? Ditikung dari belakang oleh orang yang kamu kenal. Oh, bukan. Kamu tidak mengenal laki-laki yang menyayangi kekasihmu baru-baru ini. Tetap sama saja, sakit yang dirasakan menusuk dada sedimikian dalam. Benteng pertahanan yang telah dibangun dengan susah payah langsung runtuh seketika. Kepercayaan yang dulu terbina sudah raib termakan patgulipat.

Aku sedang tidak berbicara hukum karma. Aku berbicara tentang kau saat tanpaku. Kau apa adanya. Mencari wanita yang bisa mengisi kekosongan dihatimu. Dan kamu berhasil menemukannya. Menemukan yang pantas bersanding dengan adam berdarah biru. Saat kamu mondar-mandir mencari pujaan hati, yang terjadi denganku hanyalah merenung di balik senyum.

Tapi memang begitu, seperti pepatah yang mengatakan siapa yang menanam, dia yang akan menuai.

Wanita mana yang berhasil menjelajahi pikiranmu setelah aku? Bukan dia yang selalu kau banding-bandingkan dengan aku. Aku sering kalah telak kalau berbicara tentang keahliannya. Kamu selalu mengutamakan dia hingga kamu jatuh hati padanya dan meninggalkanku sendiri begitu saja. Memang iya, dia menang di berbagai aspek. Bicara soal fisik jelas dia lebih mempesona, kulit putih dan rambut lurus sebahu yang selalu dibiarkan tergerai. Tinggi badannya juga sesuai dengan porsi berat badannya. Suara merdu dilantunkan kapan dan dimana saja. Dan aku... Jangan tanya lagi, berbeda seratus delapan puluh derajad.

Dalam diamku, aku mengenal baik wanita yang menyelingimu. Yang sekarang bergelar mantan kekasih itu. Dia lebih jago membuatmu tertawa. Katamu, suara wanita itu selalu terngiang dalam pikiranmu. Wanita berparas ayu yang satu tahun lebih senior di atasku.


291113 21:31 ~ Empat belas bulan setelah kepergianmu. Rasa ingin kembali sudah mati sejak dulu. Sebab aku sadar, tak ada gunanya menangis tersedu meratapi janji-janji palsu.

Sunday, November 24, 2013

Kerikil Kecil

"Biar orang mau bilang kita apa, sebab mereka tidak tahu isi hati kita. Sebab kita yang menjalani kehidupan, bukan mereka. Begitu saja." - Nindya Indika
Follow me on twitter @indikann
Tidak usah ambil pusing dan jangan khawatir, aku sudah terbiasa melumat kata-kata. Menumbuknya dengan halus agar orang kira aku selalu bahagia. Ketimbang harus melakoni drama; menangis tersedu minta dikasihani. Bukan berarti aku tidak butuh bahu untuk menyadarkan kepala setelah dilanda letih bertalu-talu. Aku sudah terbiasa melakoninya sendiri.

Kerap kali aku terdiam jika orang berbicara keburukan. Seuntai senyum aku berikan dikala berita tidak benar menyerbu tanpa pertanggungjawaban. Aku tidak balik membalasnya dengan seabrek makian. Sejak aku masih kecil, Ibu selalu mengajariku untuk tidak menjelek-jelekkan orang. Kalau aku membuka aib orang, suatu saat keburukanku akan terkuak lebih kejam. Begitu yang Ibu bilang.  Itulah sebab kenapa aku lebih memilih diam.

Sempat aku menangis dan aku sadar tangsiku tiada berarti kalau aku tidak berubah. Tangisku akan sia-sia jika aku masih melakukan kesalahan yang sama. Maka aku memutuskan untuk berjanji pada diriku sendiri supaya memperbaiki diri. Dengan cara koreksi pada masa silam. Siapa tahu aku pernah menyakiti hati keturunan adam. Jadi, Tuhan memberi balasan kepadaku. Aku tidak marah pada Tuhan, malah aku berterimakasih karena telah disadarkan.

Tangisku tidak meraung dalam ruang. Hanya meneteskan air mata di balik kepalan tangan. Jika orang melihatnya aku akan menghapus air mataku dan menyapanya. Menyapa dengan penuh harap; semoga dia tidak tahu kalau aku sedang bersedih. Aku lebih sering menguras air mata di pojok ruang. Meringkuk, tertunduk lalu menggigit bibir yang tidak berdosa atau meninggigit kuku yang masih putih. Merinding rasanya.

Satu lagi tentang tangis yang jarang kulafalkan. Ayah mengajariku untuk selalu tegar dalam menyelesaikan masalah. Mungkin karena aku seorang wanita yang katanya perasaanya lebih peka ketimbang pria dengan logika begitu nyata. Mungkin.


241113 ~ 17:30 Sambil menunggu adzan maghrib

Friday, November 22, 2013

Terlambat Jatuh Cinta

Kamu sekarang dimana?
Lagi apa?
Baik-baik saja, kan?
...
Akhir-akhir ini perasaanku kacau balau. Bimbang antara perasaan biasa atau... Aku ingin menyapamu tapi aku takut. Tapi aku rindu. Tapi aku kangen. Tapi aku tidak berani. Tapi... Tapi... Tapi... Hanya tapi dan tapi.

Aneh betul, hatiku sering bergetar saat melihat kamu tertawa bersama teman-teman. Sepertinya aku juga turut bahagia dengan kebahagiaanmu. Tumben perasaanku senyleneh ini. Setelah lama mengakhiri hubungan aku belum pernah merasakan hal ini lagi.

Berkali-kali aku menghentikan pola pikirku tentang kamu. Tentang kenangan lalu. Tentang kita yang sering berjalan beriringan. Tentang kita yang membicarakan segala sesuatu dengan penuh kegirangan. Tentang kamu yang membuatku lari sebentar dari masalah dan saat aku kembali, masih kutemukan masalah tersusun rapi. Juga tentang perilakumu yang membuatku terkekeh. Dulu, sebelum hari ini berlalu.

Kenapa kamu menghindar, bukankah kamu pernah mengatakan kalau kita hanya berteman. Aku belum pernah memintamu melebih-lebihkan hubungan kita. Sekalipun banyak yang mendesak, aku berusaha patuh pada pendirian. Pada kaidah Tuhan yang pernah aku alpakan. 

Butuh tekad kuat untuk menguatkan hati. Berhari-hari aku merenungkan perasaan yang bermukim pada diriku. Kerisauanku bermuara di hari itu. Hari dimana aku pergi menjauh tanpa sepatah kata untukmu. Kau tahu, aku terpaksa begini. Aku pura-pura. Aku tak ingin melihat wanita itu terluka, Sayang. 

Andai pintu kemana saja benar-benar ada. Aku ingin berada di hatimu untuk kali ini saja.

Bisakah kamu menjelaskan tentang kepergianmu? Kepergian yang selalu bertemu. Kedengarannya aneh sebab setiap hari aku masih bisa menatap wajahmu yang memalingkan muka dariku. Pelariannya, aku menatap tubuhmu dari belakang sambil membayangkan impian.

Imajinasiku terlalu tinggi, ya? Berharap aku masih berada di hatimu setelah sekian lama kuhiraukan. Aku memang tidak tahu pasti siapa yang berada di hatimu karena kamu selalu menutupinya dariku dan dari orang-orang. Tapi aku menemukan banyak gejala jatuh cinta.

Bolehkah aku memutar waktu seperti dulu...

Mungin aku salah sudah terlalu jauh menyia-nyiakanmu. Aku menyesal pernah membalas sapaanmu hanya dengan kata "Ya" tanpa seuntai senyum sedikitpun. Aku tahu penyesalan diakhir tak ada artinya. Tapi dengan menyesal, paling tidak aku bisa memperbaiki kesalahanku dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.

Berharap kamu mau memaafkan kesalahanku dan kita bisa kembali seperti dahulu. Aku tidak memaksamu untuk ini. Namun, sungguh aku ingin meminta maaf. Aku hanya menuliskan keinginanku saja, siapa tahu kamu berkenan membaca tulisan cakar ayamku.

Terkadang kita baru sadar kalau kita sedang jatuh cinta setelah kita mengacuhkan perasaannya. 

Mawar merah mulai merekah. Aku tak perlu menunggunya benar-benar mekar agar kamu tahu betapa rindunya aku pada setiap detik bersamamu.

Mawar biru mulai layu. Cinta yang dulu ada dihatimu (mungkin) sudah sirna ditelan ombak. Laut tidak jahat, laut hanya menjadi pelabuhan. Sebenarnya ombak juga tidak salah, sebab Tuhan telah mewaritakan takdir sebelum ombak menggulung.


Maudy Ayunda - Cinta Datang Terlambat

Tak ku mengerti mengapa begini
Waktu dulu ku tak pernah merindu
Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa cinta datang terlambat

Tapi saat semuanya berubah
Kau jauh dariku
Pergi tinggalkanku

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Mungkin memang ku cinta
Mungkin memang ku sesali
Pernah tak hiraukan rasamu dulu
Aku hanya ingkari
Kata hatiku saja
Tapi mengapa kini
Cinta datang terlambat

Cinta datang terlambat
 Nindya, Indika 221113 ~ 17:56 

Sunday, November 10, 2013

Pengagum Rahasia

Beberapa jam lalu, ada seorang wanita menghubungiku. Wanita itu menceritakan keluh kesah mencintaimu. Ketika dia bercerita tentang kamu, aku pura-pura tak mengerti arah pembicaraan tersebut. Padahal aku pernah dengar samar-samar kalau dia sempat memiliki tempat spesial di masa lalumu.

Layaknya menanggapi celotehan orang, aku terus saja mendengarkan isi hati yang ia curahkan. Aku meresapi betul setiap kalimat yang ia tuliskan. Semakin lama aku meresapi, semakin dalam luka yang tertancap pada hati. Kebenaran dari setiap ceritanya sukar bila diragukan, karena aku sudah mengenal wanita itu cukup lama.

Jam dinding berdentang, menunjukkan pukul dua belas tepat. Dua puluh lima menit kemudian People Like Us hasil goresan Kelly Clarkson berkumandang dari layar ponselku. Rupanya ada satu pesan masuk entah dari siapa.

New message

Setelah menekan read, aku tercengang lebih lama. Mengapa timbul masalah baru sehabis terpercik suka cita. Pesan dari nomor tak dikenal itu melilit sanubari. Nurani yang sudah kritis mau dibuat sedemikian friksi seperti apalagi.

"Tolong jauhi kekasihku, dia sekedar menjadikanmu sebagai selingan. Dia tak akan pernah mencintaimu karena hanya aku yang pantas berada dalam kehidupannya. Bisakah kau berjanji untuk menjauhi? Aku yakin kau pasti bisa. Kalau dia mendekat, segeralah beranjak pergi tanpa berpikir dua kali sebab kamu akan terus tersakiti jika berani melanggar janji."

Siapa lagi ini, darimana dia mengenal aku. Apakah dia sudah lama memata-mataiku atau dia punya telik sendhi? Pertanyaan konyol itu membuatku semakin penasaran. Perintah dalam kalimat itu menegaskan kalau dia sudah mengenal aku dan laki-laki paruh baya itu.

Satu masalah belum usai sudah ditambah masalah lagi. Celotehan wanita tadi saja belum total aku tanggapi tapi malah semakin miris ditambah perintah menjauhi. Tak henti-hentinya persoalan baru menghantamku sejak aku mengenal pria bersahaja.

Sengaja pesan tak dikenal itu aku dicampakkan lalu aku melempar ponselku ke tempat peristirahatan. Ku pejamkan mataku sambil menarik nafas dalam-dalam, kali saja bisa menjernihkan pikiran. Selang beberapa detik, kembali kubuka punca kemudian merebahkan diri di atas sofa terracotta.

People Like Us kembali meraung melalui ponselku. Dan itu memaksaku melangkah ke arah suara itu berasal. Satu pesan baru (lagi). Kali ini berasal dari wanita yang pesannya belum aku tanggapi sepenuhnya.

"Aku rasa dia sudah berubah semenjak aku tak pernah mempedulikannya. Kata orang dia pernah mencintaiku namun saat itu aku tak paham. Setelah aku sadar dan mencintanya begitu dalam, dia jarang menyapaku dan menghindar dariku. Bahkan tak pernah lagi namaku terucap dari sudut birainya. Namamu kini menggantikanku, dia sering menyapamu kan? Aku tahu itu (Smile emotion)."

Ah, kenapa wanita itu juga tahu kalau pria sederhana sering menyapaku. Pasti hatinya seperti tercabik-cabik. Lebih sakit dari cakaran kucing. Dia pasti sering memperhatikan kochanie, panggilan untuk pria bersahaja yang membuatku betah berlama-lama bersama. Tunggu, aku ingat saat dulu berbincang-bincang dengan kochanie, sorot mata wanita itu terfokus pada sosokku.

Kalau wanita itu tahu jika aku dekat dengan pujaan hatinya, kenapa dia malah memilih aku sebagai tempat pencurahan isi hatinya? Karena sosokku yang terbiasa berkutit dengan masalah? Karena aku biasa menulis naskah? Atau ada sebab lainnya? Aku tak mengerti tujuannya. Ini membingungkan.

Sepertinya aku perlu meluruskan kembali jalan pikiranku. Aku perlu berpikir positif tentang wanita itu. Kali saja dia menganggapku pantas dihujati muntahan afeksi. Jadi, aku harus menanggapinya seperti menjawab luapan kisah orang.

Can you hear me? If you hear me, everybody can hear you too. 

I will see you, not now but someday
Aku bingung harus menjawab apa, aku takut kalau jawabanku membuatnya semakin sakit hati. Ku kepalkan kedua tanganku sambil menundukkan pandangan; berpikir cara membalas pesan agar tidak menyayat hati anak orang.

"Aku dan dia tidak lebih dari seorang teman, sungguh (Hug emotion). Jangan berpikir pada satu poros yang sama. Buka pikiranmu, mulailah dengan meyakinkan diri untuk tidak menyesal dan tidak mudah percaya pada omongan orang. Kamu bisa menyapanya duluan, bukan? Dicoba dulu saja (Triple smile emotion)."
Trust me, please!
 
Lebih singkat dari curahan hatinya, kan? Kata-kata itu yang terbesit dipikiranku lalu aku ketik kemudian aku tekan send untuk dikirim ke nomor ponsel wanita itu. Semoga saja aku tidak salah kata dan wanita itu puas dengan jawaban singkatku.

Sembari menunggu balasan dari wanita itu, aku membolak-balikkan Yang Menunggu Dengan Payung oleh Zelfeni Wimra. Aku suka dengan cerita seperti ini, antologi apalagi. Girang rasanya apabila meresapi kalimat dari setiap bacaan. Mungkin sama pada kebiasaan Kochanie. Bedanya (sekarang) aku lebih suka pada cerita berbau asmara, sementara Kochanie suka melahap segala macam bentuk bacaan.

Sudah satu jam aku menunggu balasan dari pesan singkat wanita bermata hitam legam, namun tak kunjung juga People Like Us beredering dari penjuru ruangan tempat aku meletakkan ponsel. Tak biasanya ia seperti ini. Biasanya juga aku yang membalas lama. Jangan-jangan dia marah pada kata-kataku. Aduh, bagaimana jika ini terjadi..

We come into this world unknown
But know that we are not alone
They try and knock us down
But change is coming, it's our time now
...

Suara Kelly Clarkson yang berpadu dengan sentuhan musik artistik bergema dari penjuru ruangan. Ada pesan baru masuk, gumamku dalam hati. Kusahut ponsel kesayanganku dari sebelah red rose bouquet. Sambil melangkahkan kaki menuju sofa terracotta dekat jendela, kugeser layar ponsel bertuliskan slide to unlock.

Belum sempat aku duduk di sofa, rasa kantuk datang begitu saja tanpa permisi. Kucoba untuk menahan rasa kantuk yang sudah menduduki level sepuluh. Mungkin punca hanya menyisakan 5 watt saja. Saat aku meluruskan kaki di atas sofa terracotta aku sudah tak tahan lagi membaringkan punggung di atas istana busa bercorak jingga.

Aku menekan tombol read dan pesan itu muncul. Belum sempat aku membacanya, kepalaku sudah tertunduk. Ponselku terlepas dari genggamanku dan jatuh di atas karpet bercorak coklat tua. Mataku terpejam. Aku sedang mengunjungi bunga tidurku, dunia mimpi.

I'm not a sleeper but I can sleep during day if I'm so tired.


16:27 - 101113 ~ Menghabiskan sisa hari Minggu untuk melukiskan keadaan, sebelum bertemu dengan pelajaran yang kadang menjengkelkan karena tak bertemu dengan jawaban. Namun lebih banyak menyenangkan dan menyuguhkan kenangan.