Sunday, November 24, 2013

Kerikil Kecil

"Biar orang mau bilang kita apa, sebab mereka tidak tahu isi hati kita. Sebab kita yang menjalani kehidupan, bukan mereka. Begitu saja." - Nindya Indika
Follow me on twitter @indikann
Tidak usah ambil pusing dan jangan khawatir, aku sudah terbiasa melumat kata-kata. Menumbuknya dengan halus agar orang kira aku selalu bahagia. Ketimbang harus melakoni drama; menangis tersedu minta dikasihani. Bukan berarti aku tidak butuh bahu untuk menyadarkan kepala setelah dilanda letih bertalu-talu. Aku sudah terbiasa melakoninya sendiri.

Kerap kali aku terdiam jika orang berbicara keburukan. Seuntai senyum aku berikan dikala berita tidak benar menyerbu tanpa pertanggungjawaban. Aku tidak balik membalasnya dengan seabrek makian. Sejak aku masih kecil, Ibu selalu mengajariku untuk tidak menjelek-jelekkan orang. Kalau aku membuka aib orang, suatu saat keburukanku akan terkuak lebih kejam. Begitu yang Ibu bilang.  Itulah sebab kenapa aku lebih memilih diam.

Sempat aku menangis dan aku sadar tangsiku tiada berarti kalau aku tidak berubah. Tangisku akan sia-sia jika aku masih melakukan kesalahan yang sama. Maka aku memutuskan untuk berjanji pada diriku sendiri supaya memperbaiki diri. Dengan cara koreksi pada masa silam. Siapa tahu aku pernah menyakiti hati keturunan adam. Jadi, Tuhan memberi balasan kepadaku. Aku tidak marah pada Tuhan, malah aku berterimakasih karena telah disadarkan.

Tangisku tidak meraung dalam ruang. Hanya meneteskan air mata di balik kepalan tangan. Jika orang melihatnya aku akan menghapus air mataku dan menyapanya. Menyapa dengan penuh harap; semoga dia tidak tahu kalau aku sedang bersedih. Aku lebih sering menguras air mata di pojok ruang. Meringkuk, tertunduk lalu menggigit bibir yang tidak berdosa atau meninggigit kuku yang masih putih. Merinding rasanya.

Satu lagi tentang tangis yang jarang kulafalkan. Ayah mengajariku untuk selalu tegar dalam menyelesaikan masalah. Mungkin karena aku seorang wanita yang katanya perasaanya lebih peka ketimbang pria dengan logika begitu nyata. Mungkin.


241113 ~ 17:30 Sambil menunggu adzan maghrib

1 comment: