Pernahkah kau berlari di bawah rintikan hujan mengais masa lalu? Jatuhnya menimbulkan senandung sepi. Beralunan akor simponi. Menghindarkanmu dari simpati. Menimbulkan riuh dalam hati. Setelah berhasil mencuri afeksi, kepergianmu bukan lagi fiksi. Terlihat nyata akibat desakan benci. Membenci kekasihmu sendiri. Kurang apalagi.
Kau...
Apa kabar setelah sekian lama tidak bertegur sapa
Masih tidak menyukai matematika,
atau sudah hanyut dalam kayuhan roda sepeda
Kau...
Masihkah melompat seratus kali dalam sehari,
membuatku khawatir dengan lebam di bahumu
Selalu begitu,
mengatakan baik-baik saja padahal ada luka
Kau...
Teman berbincang pukul dua dini hari,
saat aku terbangun dan tak bisa terlelap lagi
Menemaniku dengan keikhlasan hati
Aku tidak sedang merayu menagih janjimu untuk segera kembali. Hatiku sudah terkunci bagi laki-laki yang telah menyelingi. Membuatku merasakan angka dua yang tak pernah aku harapkan. Terlalu sukar jika harus menyusun kepercayaan dari awal. Aku tidak menyangkal kalau kamu berubah. Setelah perpisahan kita, kamu kembali seperti semula. Melakoni hidup seperti biasanya, kemana-mana sesuai kemauan diri.
Kemarin, kudengar dari seorang kawan kalau kamu merasakan apa yang pernah kurasakan denganmu. Tapi kamu terlihat lebih tegar dari aku. Tanpa rayuan gombal dan air mata yang membasahi pipimu. Bahkan, tanpa ambil pusing kamu langsung mengakhiri hubungan dengan kekasihmu saat itu juga.
Bagaimana rasanya? Sakit betul, kan? Ditikung dari belakang oleh orang yang kamu kenal. Oh, bukan. Kamu tidak mengenal laki-laki yang menyayangi kekasihmu baru-baru ini. Tetap sama saja, sakit yang dirasakan menusuk dada sedimikian dalam. Benteng pertahanan yang telah dibangun dengan susah payah langsung runtuh seketika. Kepercayaan yang dulu terbina sudah raib termakan patgulipat.
Aku sedang tidak berbicara hukum karma. Aku berbicara tentang kau saat tanpaku. Kau apa adanya. Mencari wanita yang bisa mengisi kekosongan dihatimu. Dan kamu berhasil menemukannya. Menemukan yang pantas bersanding dengan adam berdarah biru. Saat kamu mondar-mandir mencari pujaan hati, yang terjadi denganku hanyalah merenung di balik senyum.
Wanita mana yang berhasil menjelajahi pikiranmu setelah aku? Bukan dia yang selalu kau banding-bandingkan dengan aku. Aku sering kalah telak kalau berbicara tentang keahliannya. Kamu selalu mengutamakan dia hingga kamu jatuh hati padanya dan meninggalkanku sendiri begitu saja. Memang iya, dia menang di berbagai aspek. Bicara soal fisik jelas dia lebih mempesona, kulit putih dan rambut lurus sebahu yang selalu dibiarkan tergerai. Tinggi badannya juga sesuai dengan porsi berat badannya. Suara merdu dilantunkan kapan dan dimana saja. Dan aku... Jangan tanya lagi, berbeda seratus delapan puluh derajad.
Dalam diamku, aku mengenal baik wanita yang menyelingimu. Yang sekarang bergelar mantan kekasih itu. Dia lebih jago membuatmu tertawa. Katamu, suara wanita itu selalu terngiang dalam pikiranmu. Wanita berparas ayu yang satu tahun lebih senior di atasku.
291113 21:31 ~ Empat belas bulan setelah kepergianmu. Rasa ingin kembali sudah mati sejak dulu. Sebab aku sadar, tak ada gunanya menangis tersedu meratapi janji-janji palsu.
No comments:
Post a Comment