Wednesday, May 14, 2014

Tatapan Kedua



Bau asap hasil pembakaran limbah memaksaku memakai masker. Toh, aku juga sedang menghindar dari tatapan seseorang. Barangkali dengan ini aku bisa lebih leluasa mengeja nama ciptaan Sang Maha Kuasa tanpa harus mengumpat di balik punggung.

Garis lurus di depan mata terasa melengkung bak pembelotanku pada aturan. Dasar, tidak tahu adat. Hal itu membuat lensa silinder menghiasi mataku. Mungkin perilakuku juga butuh alat seperti lensa silinder pada kacamata.

Penyamaran sempurna.

Dia tidak akan tahu kalau makhluk Tuhan berkacamata dengan masker yang menutup separuh wajahnya adalah orang yang ingin ditemui sebab rindu setengah mati. Tidak denganku yang selalu menolak mengatakan iya dikala letupan dalam lubuk hati meminta bertemu kembali. Aku lebih sering menerka keadaan dibanding merasakan rintihan, cenderung keras kepala tepatnya.

Aku suka dengan caraku yang menurut pemikiran orang termasuk pembalasan; dendam. Bukankah wajar bila aku menjauh karena sebuah alasan, aku tak ingin semakin jatuh lebih dalam. Jika aku menemuinya, amarah di dadaku tak bisa ditoleransi lagi. Semakin diungkit semakin sakit. Sebab itu aku sering menghindar saat kutemui makhluk itu berada tidak jauh dariku. Aku tak mau memperkeruh keadaan.


Hari ini aku siap untuk melancong lebih jauh dari kemarin. Mengusir penat yang bertengger di sudut ruang.

Berkeliling menyusuri jalan setapak desa sudah menjadi kegemaranku setiap lelah menghampiri. Hamparan sawah dengan padi yang mulai menguning cukup pas untuk menghirup udara bebas. Gemericik air semakin membuat suasana menjadi damai nan asri. Joglo tua tempatku menyeduh secangkir teh hangat pagi ini menyisakan arti tersendiri.

 “Butuh teman untuk menikmati secangkir teh kesukaanmu?”

Ada yang menyapaku dari belakang dengan nada amat sangat begitu sopan. Suara serak bernada rendah membuatku tercengang. Kutolehkan kepalaku ke arah asal suara yang tak lagi asing terdengar di gendang telingaku dengan perasaan campur aduk. 

Dengan mimik tak karuan langsung kututup lagi separuh wajahku dengan masker tanpa membalas sapaannya. Kutinggalkan secangkir teh yang tinggal separuh di meja antik. Ayunan langkahku semakin kupercepat agar bisa bergegas pergi dari tempat seanggun rumah adat jawa.



“Ketika mata bertemu mata, degupan jantung tak bisa lagi diibaratkan dengan aksara. Hanya hati yang bisa berucap kata.”- Perjalanan menuju sekolah, Indika.

Belum sempat menginjakkan kaki di pintu keluar, kelima jemarinya berhasil merengkuh jemariku. Menahanku agar tidak pergi dari sini. Kelembutannya lagi-lagi membuka memori yang sudah lama kupendam. 

Kucoba untuk meronta keinginan hati terdalam tapi tak bisa. Nanar matanya meruntuhkan nyaliku yang hanya tinggal sejengkal. Cahaya yang memancar dari indra penglihatannya mengembalikanku pada masa silam. Aku pernah menjadi pemilik temporernya, aku ingat itu. Dulu aku bisa bebas mengeja namanya dalam batas, sekarang aku malah menjauh tanpa batas darinya.

Pandangan matanya selalu membuatku jatuh hati berulang kali. Setiap gerak-gerikku dibayangi oleh kelakuan lucunya. Di setiap malamku selalu ada sebaris harapan yang kuutarakan pada Tuhan. Termasuk memimpikannya yang acap kali membuat hatiku berbunga-bunga.

Tak kuasa aku menahan rindu terpendam yang bercampur dengan api kemarahan. Entah apa yang aku rasakan, aku belum pernah dibuat sedemikian idiot seperti kali ini. Syaraf di sekujur tubuhku kaku, aku tak bisa berbuat apa-apa dalam dekapannya. Kehangatan yang dulu pernah kurasakan kembali membuatku merasa nyaman.


12 MEI 2014

-indikann-

Sunday, May 11, 2014

Meiku Sendiri Lagi



18:15 PM

Senjaku kali ini terasa begitu getir. Sama seperti senja sebelum jingga berubah warna yang kulewati bersama isakan tangis berhari-hari. Sampai ruangan tempatku merebahkan badan dibanjiri linangan air mata sungkan. Aku tak peduli. 

Termenung daku dalam hanyutan perasaan pasrah penuh penyesalan. Sumpah, tak akan kusentuh lagi abjad-abjad yang membuatku patah hati. Juga kamu yang membuat nyaliku menciut pada detik dimana Mei pagi ditinggal pergi. Lagi-lagi kesetiaanku diuji.

­­Demi apapun yang membuatmu yakin sepenuhnya, aku tak pernah membalas setiap kali ada yang mencoba memasuki celah hati yang semakin hari semakin merenggang. Kutolak mentah-mentah perjuangan mereka. Sebab, rasa cintaku sudah terkunci oleh mentari. Sayangnya masih ada bima sakti yang berkasta lebih tinggi. Tak heran bila mentariku luluh lantah di hadapannya.


Aku ingin memakimu, tapi Meiku menolaknya.

Ingin aku berbicara denganmu, lebih tepatnya meneriaki namamu di hadapanmu langsung agar kamu paham seberapa rumitnya perasaan dihatiku kala bersamamu. Jujur, aku bukan perempuan yang mudah melupakan namun orang bilang perasaanku tak berfungsi normal seperti kebanyakan. Bisa dibayangkan ketika orang dengan logika maut sukar sekali meniadakan sesuatu yang berada dalam pikirannya.

Bibirku terancam bisu saat namamu disebut. Penat rasanya ketika nama indah pemberian orang tuamu terus menerus menghakimiku. Sudah kututup kedua gendang telingaku dengan lantunan ayat syahdu. Sejenak kutulikan indra pendengaranku dari kata-kata bejatmu. Hasilnya nihil, aku masih bisa merasakan detang jantungmu pada setiap denyutan nadiku walaupun sudah berkali-kali kau membuat aliran darahku rendet. Mampet.


Masih ada hati pada Mei yang ditinggal pergi.

Tanpa basa-basi sana-sini lewat hati yang paling diuji akan kukatakan kalau masih ada secuil sisa mentari dibalik punggung purnama yang sebentar lagi akan datang menghampiri. Sebelum sebercak jingga tak lagi menyisakan warna di langit khatulistiwa.

Ini bukan soal rujuk kembali, ini tentang hati yang masih menyisakan rasa setelah dipaksa melupa. Barangkali juga setelah disa(menya)kiti aku merasa semakin sunyi. 



I haven’t moved from the spot. Yes, you.

-indikann-

Friday, April 4, 2014

Janji





"Bisa kan menjaga yang menjadi milikmu sekarang? Jangan tunggu sampai kehilangan, nanti bisa menyesal."

Puisi


Kapan lagi kutulis untukmu, tulisan-tulisan indahku yang dulu pernah warani dunia. Puisi terindahku hanya untukmu.


Nindya, Indika
Dalam rinduku padamu.