Bau asap hasil pembakaran limbah
memaksaku memakai masker. Toh, aku juga sedang menghindar dari tatapan
seseorang. Barangkali dengan ini aku bisa lebih leluasa mengeja nama ciptaan
Sang Maha Kuasa tanpa harus mengumpat di balik punggung.
Garis lurus di depan mata terasa
melengkung bak pembelotanku pada aturan. Dasar,
tidak tahu adat. Hal itu membuat lensa silinder menghiasi mataku. Mungkin
perilakuku juga butuh alat seperti lensa silinder pada kacamata.
Penyamaran
sempurna.
Dia tidak akan tahu kalau makhluk
Tuhan berkacamata dengan masker yang menutup separuh wajahnya adalah orang yang
ingin ditemui sebab rindu setengah mati. Tidak denganku yang selalu menolak
mengatakan iya dikala letupan dalam lubuk hati meminta bertemu kembali. Aku lebih
sering menerka keadaan dibanding merasakan rintihan, cenderung keras kepala
tepatnya.
Aku suka dengan caraku yang
menurut pemikiran orang termasuk pembalasan; dendam. Bukankah wajar bila aku
menjauh karena sebuah alasan, aku tak ingin semakin jatuh lebih dalam. Jika aku
menemuinya, amarah di dadaku tak bisa ditoleransi lagi. Semakin diungkit
semakin sakit. Sebab itu aku sering menghindar saat kutemui makhluk itu berada
tidak jauh dariku. Aku tak mau memperkeruh keadaan.
Hari ini aku siap untuk melancong
lebih jauh dari kemarin. Mengusir penat yang bertengger di sudut ruang.
Berkeliling menyusuri jalan
setapak desa sudah menjadi kegemaranku setiap lelah menghampiri. Hamparan sawah
dengan padi yang mulai menguning cukup pas untuk menghirup udara bebas. Gemericik
air semakin membuat suasana menjadi damai nan asri. Joglo tua tempatku menyeduh
secangkir teh hangat pagi ini menyisakan arti tersendiri.
“Butuh teman untuk menikmati secangkir teh
kesukaanmu?”
Ada yang menyapaku dari belakang
dengan nada amat sangat begitu sopan. Suara serak bernada rendah membuatku
tercengang. Kutolehkan kepalaku ke arah asal suara yang tak lagi asing
terdengar di gendang telingaku dengan perasaan campur aduk.
Dengan mimik tak karuan langsung
kututup lagi separuh wajahku dengan masker tanpa membalas sapaannya.
Kutinggalkan secangkir teh yang tinggal separuh di meja antik. Ayunan langkahku
semakin kupercepat agar bisa bergegas pergi dari tempat seanggun rumah adat
jawa.
“Ketika mata bertemu
mata, degupan jantung tak bisa lagi diibaratkan dengan aksara. Hanya hati yang
bisa berucap kata.”- Perjalanan menuju sekolah, Indika.
Belum sempat menginjakkan kaki di
pintu keluar, kelima jemarinya berhasil merengkuh jemariku. Menahanku agar
tidak pergi dari sini. Kelembutannya lagi-lagi membuka memori yang sudah lama
kupendam.
Kucoba untuk meronta keinginan
hati terdalam tapi tak bisa. Nanar matanya meruntuhkan nyaliku yang hanya
tinggal sejengkal. Cahaya yang memancar dari indra penglihatannya
mengembalikanku pada masa silam. Aku pernah menjadi pemilik temporernya, aku
ingat itu. Dulu aku bisa bebas mengeja namanya dalam batas, sekarang aku malah
menjauh tanpa batas darinya.
Pandangan matanya selalu
membuatku jatuh hati berulang kali. Setiap gerak-gerikku dibayangi oleh
kelakuan lucunya. Di setiap malamku selalu ada sebaris harapan yang kuutarakan
pada Tuhan. Termasuk memimpikannya yang acap kali membuat hatiku
berbunga-bunga.
Tak kuasa aku menahan rindu
terpendam yang bercampur dengan api kemarahan. Entah apa yang aku rasakan, aku
belum pernah dibuat sedemikian idiot seperti kali ini. Syaraf di sekujur
tubuhku kaku, aku tak bisa berbuat apa-apa dalam dekapannya. Kehangatan yang
dulu pernah kurasakan kembali membuatku merasa nyaman.
12 MEI 2014
-indikann-
No comments:
Post a Comment