Wednesday, May 23, 2018

Belajar dari Sekitar


Jumat kemarin kebetulan saya pergi ke Centro, ada hal menarik yang membuat saya senyum-senyum sendiri juga membuat saya mengevaluasi perilaku saya selama ini. Mungkin terlihat sepele, tapi bagi saya ini adalah cambuk untuk terus berprogres dalam hidup. Sebab hal kecil di sekeliling kita bisa jadi pelajaran berharga untuk bekal memanusiakan manusia.

****

Seorang Ibu mengenakan daster lusuh, jaket biru yang warnanya mulai pudar, dan sandal jepit dengan wajah amat sangat berbahagia menggendong seorang bayi sambil melihat deretan tas di bagian rak display piere cardin,

“Mas, iki apik,” (Mas, ini bagus) kata Ibu tersebut kepada sesosok lelaki yang mengenakan jaket hitam dan celana hitam selutut

“Hooh, Bu. Iki sing mau kae ning ngarepan to,” (Iya, Bu. Ini yang tadi ada di bagian depan kan)  jawab sang lelaki tersebut sama riangnya dengan si Ibu

Mbak, iki ono cangklongane ora yo?” Tanya si Ibu pada salah satu pramuniaga yang sedang bertugas

“Ada, Ibu. Selempangnya ada di dalam tas, ” jawab Mbak Pramuniaga dengan senyum dan penuh kesopanan

Kemudian si Ibu tadi membolak-balik bagian tas tersebut sembari mencari label harga, lalu Ibu tadi tersenyum pada mbak pramuniaga dan kembali menaruh tas tersebut ke tempat asalnya. Setelah itu si Ibu tadi berjalan ke sisi lain etalase tas sambil mencari tas yang sesuai dengan keinginannya.

Lagi, Ibu tadi mendatangi rak display yang berisi koleksi tas sakroots dan mencari barang yang Ia idam-idamkan. Senyum yang sedari tadi terpancar di wajahnya tak sekalipun absen menghiasi mimiknya. Tenang sekali rasanya.

***

Ada dua poin yang saya suka dan membuat saya kepikiran terus (So, I decide to write it), dua hal yang saya jadikan sebagai pelajaran dalam hidup untuk selalu berbuat baik kepada sesama, dua hal yang mengingatkan saya untuk selalu menjadi alasan seseorang tersenyum, dua hal yang mengajari saya cara menghargai, dua hal yang akan mendiami sisi penting dalam kisah hidup saya.

Pertama ketika si Mbak Pramuniaga melayani pembeli tanpa melihat tampilan luarnya. Mbak Pramuniaga itu menjawab pertanyaan si Ibu dengan sopan tanpa nggedumel sesudahnya. Kok saya bisa tahu? Karena saya berada di rak display yang bersebelahan dengan rak display tas yang didatangi si Ibu tadi sampai Ibu tersebut beralih ke etalase lain. Kebetulan juga saya dilayani sama Mbak Pramuniaga itu yang mau menjawab berbagai pertanyaan saya, sampai dikasih tau merek pembersih tas kulit sintesis yang bagus dan bagaimana cara membersihkannya.  Terima kasih, Mbak!  J

Kedua, saya mengagumi si Bapak yang tidak marah saat menemani si Ibu berkeliling mencari tas yang Ia cari. Menurut saya itu lumayan lama karena saat saya sudah berkeliling sampai kaki saya pegel, saya masih menjumpai kedua pasangan tersebut pada rak display tas di Centro. Bahkan Si Bapak terus-menerus menorehkan senyuman kepada si Ibu sambil sesekali mengelus kepala anak yang ada dalam gendongan si Ibu. Bapak itu mengajari saya cara untuk membagi kebahagiaan pada orang lain.


Kalau kalian ingin tahu, ketika saya tertarik dengan sesuatu, saya bisa memperhatikan hal tersebut sampai detail atau mungkin curi-curi pandang untuk mencari tahu, hehe.

28 April 2018
23:31
-indikann-

Sunday, February 12, 2017

Saat Sepi Menghampiri


Untuk seseorang yang merasa kesepian, kamu atau siapapun itu :)


Suatu hari di sebuah warung makan depan sekolah sembari menunggu teman lelakiku sholat jumat.

"Ndik, mau nanya"
"Boleh. Tanya apa?"
"Kamu pernah merasa sepi nggak?"
"Ummm... semua orang pernah ngerasain sepi kali"
"Kamu ada cowok nggak?"
"Banyaklah temen cowok, tapi kalau pacar enggak"
"Terus kalau kamu kesepian gimana?"

Kalau aku kesepian, 

Mungkin orang kira aku akan menangis di pojokan ruang, bertingkah aneh seperti orang fakir perhatian, mencoba melarikan diri dari sesuatu kalau itu benar-benar membuat depresi, atau apalah hal-hal yang biasa dilakukan orang (yang sedang) kesepian.

Ketika aku sendirian, banyak pertanyaan tentang kehidupan bermunculan. Lalu aku menjawabnya sendiri dengan nalar yang kumiliki. Termasuk soal sepi. Aku pernah bertanya pada cermin, apakah aku kesepian? dan pantulan cermin itu tadi tersenyum. Aku tahu jawabannya, aku bisa saja merasa sepi tapi aku tidak pernah hidup sendirian maka aku tidak kesepian. Sederhana bukan?

Aku tersenyum menyikapi tingkah konyolku ketika merasa sendiri padahal di sekelilingku banyak orang yang peduli. Mereka akan dengan senang hati membagi kebahagiaan yang mereka miliki untuk melengkapi sejengkal kekosongan dalam diri ini, bahkan tanpa perlu diminta sekalipun. Teman yang baik selalu tahu cara terbaik menjadi seorang karib.

Bersyukur masih diberi hidup oleh Tuhan, masih bisa menghirup oksigen dengan gratis tanpa perlu dipungut biaya sepeserpun, masih bisa melihat orang di sekitarku tertawa lepas tanpa beban, masih diberi kekuatan untuk dapat bertahan di tengah guncangan, masih diberi keikhlasan untuk memaafkan, masih diberi ingatan tentang sebuah kenangan, masih bisa memahami orang dari banyak sisi dan tentunya masih bisa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan hebat kalian, hehe. I am blessed! 

Sebab bagiku rasa syukur  akan terus mengalir terlebih ketika melihat orang-orang di sekelilingku. Entah karena semangat mereka, kekonyolannya, tutur bahasanya atau apapun itu. Meskipun tidak aku pungkiri beberapa kali aku bertanya pada Tuhan, "Kenapa aku dipertemukan dengan mereka?" Mungkin aku butuh alasan dari sebuah pertemuan yang nanti pasti akan terjawab.  

Tentang stigma mayoritas yang mengklaim bahwa orang-orang yang duduk di sebuah kafe sendirian pasti kesepian, orang yang pergi ke bioskop membeli satu tiket untuk dirinya sendiri pasti hidupnya sunyi, orang yang berjalan sendirian di suatu tempat keramaian pasti hatinya sedang sepi dan masih banyak lagi hal-hal yang menurut mayoritas tabu. Kupikir perlu adanya perubahan cara pandang sebab tidak melulu orang melakukan hal itu karena mereka sepi, tidak punya kawan, sendiri.

Aku menghargai siapapun itu yang berprasangka bahwa orang seperti itu adalah orang yang kesepian. Terima kasih sudah mau memikirkan sesamamu sebagai makhluk sosial. Tapi alangkah lebih baik jika tidak langsung memvonis orang-orang seperti itu sebagai minoritas yang hidupnya jauh dari kebahagiaan. 

Bukankah kita semua dilahirkan untuk memelihara kehidupan? Maka, sudah sepantasnya kita sama-sama berbagi kebahagiaan satu sama lain. Tidak lagi mencela seseorang tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Seseorang yang terkena kasus saja baru akan dibui ketika ada bukti yang kuat. Lalu, kenapa masih memvonis seseorang itu melakukan hal buruk ketika kita hanya memandangnya dari satu sisi?

Dan untuk kamu yang merasa kesepian, tengoklah sebentar sekelilingmu. Berbahagialah atas keceriaan mereka. Bersyukurlah atas semua hal yang dapat kamu gapai hingga sekarang ini. Aku yakin rasa sepi yang kamu rasakan akan sirna begitu saja sebab tawa adalah candu yang pandai merasuki diri siapapun itu tanpa diminta.


Starbucks Coffee, 
12 Februari 2016
03:18


- indikann -

Friday, September 2, 2016

Kedatangan(mu)


Setiap hati selalu punya porsi, tak peduli Ia datang dari arah kanan atau kiri, Ia selalu punya cara untuk menggenapi. Datang membawa secangkir kopi sembari menghabiskan waktu senja dengan guratan jingga. Tidak berbual menyoal mimpi, namun menyimpannya dalam hati sambil terus berusaha memperbaiki diri. Setiap hati memang istimewa. Apapun itu.

Kamu datang lalu menjadi salah satu bagian degupan penting dalam kehidupan. Dengan sigap seluruhmu berhasil menjadikanku sebagai perempuan paling konyol se antero jagad raya. Tiada henti tawaku terdengar dari ujung satu ke ujung lainnya, selalu begitu ketika kalimat-kalimat itu terucap dari sudut bibirmu juga susunan kata yang begitu padu dalam setiap pesan singkatmu. Kau tahu, aku selalu suka itu. Termasuk ketika kau sedingin salju, kukuh pada sesuatu, merajuk meminta ini itu; manja. Juga kesemua jawaban debilmu. Aku selalu rindu dengan semua itu.
Image result for coffee tumblr
Source by : http://deliciousfoodies.tumblr.com/post/39103364243/costa-coffee-tumblr-on-we-heart-it

Kalau kau tahu betapa aku selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum bunga tidur menyapaku. Berkali-kali melirik ke arah telepon genggamku, barangkali ada pesan baru atas namamu. Berkali-kali pula aku menulis tentangmu. Berkali-kali juga aku membangun kepercayaan dengan sajak-sajak lalu. Ya, kau pasti tahu seberapa sering aku menghabiskan malam hanya dengan menulis atau meresapi setiap kalimat baru yang tergores dalam buku.

Meski waktu terkadang tega membunuh harapan, tidak sedikitpun menggoyahkan tekadku. Mungkin aku bersedih, namun itu hanya sepersekian detik. Menit selanjutnya kau akan melihatku sebagai perempuan yang sama seperti beberapa waktu lalu yang tersenyum menyambut kedatanganmu. Muramku tak akan lama selama kegembiraanku.

Aku menikmati setiap alurnya. Berbelok tajam, melewati tikungan, menyebrangi perairan bahkan sampai melakukan pendakian. Semua itu indah kala aku percaya bahwa segalanya akan kulewati dengan penuh tekad dan menghasilkan buah kemahsyuran. Aku diam membiarkan kisah ini berjalan semestinya karena aku suka menyesap pahit manis kehidupan sendirian. Bukan berarti aku egois tidak mau berbagi cerita denganmu, hanya saja aku tak pernah tega melihat kesedihan membayangi wajahmu.



Salam hangat dari pecandu rindu,
Aku

Sunday, April 3, 2016

Tuan Mahal Kabar #2


"Aku sudah mendapat kabar. Kasihan sekali kamu, tidak dipentingkan" - Jumat, 11:35
"Kemarin dia ...." - Sabtu, 18:35
"Lupakanlah, dia di sana sudah ..." - Rabu, 09:50

Terlalu banyak kata yang menoreh luka, tak bisa kusebut satu persatu abjadnya. Awalnya kuacuhkan, namun telingaku memanas seiring waktu membawaku ke jurang lebih dalam. Kalimat itu menjadi makanan sehari-hariku, dibarengi air yang menetes dari pelupuk mata. Pas sekali perpaduannya, pahit bercampur perih.

Sialnya lagi, rindu yang lugu itu dengan polosnya masuk tanpa mengetuk. Membuat malamku menjadi suntuk bukan karena suara nyamuk, namun sebab hatiku sedang berkecamuk. Kedatangpergianmu bagaikan ujung tanduk yang sedikit saja mengenai perasaanku sudah bisa membuanya remuk.

Kau, apa pernah memikirkan perasaanku saat hari-hari menyerangku untuk mundur?

Kau tahu bagaimana rasanya? Acap kali kau menganggap sepele keluhanku. Rengekanku masuk lewat telinga kananmu lalu keluar melalui telinga kirimu; tak pernah kau pedulikan. Oh, bukan begitu. Ini semua salahku. Salah bila aku menceritakan ketakutanku padamu. Salah bila aku ingin kau meyakinkanku bahwa kau tidak seperti yang mereka katakan.

Kau, apakah masih mau menemani anak kecil yang satu ini ?

Mungkin perkataanmu tempo hari memang betul, aku hanyalah seorang anak kecil. Ya, anak kecil yang banyak maunya. Maaf untuk semua kekanak-kanakanku. Maaf bila membuatmu ingin segera pergi. Memang pantas anak kecil ini ditinggalkan, sebab Ia sangat menyusahkan.


Tinggal menghitung hari, sebentar lagi kau pasti akan pergi...


- indikann -
19 Agustus 2015