Saturday, August 23, 2014

Cinta 5W+1H


Bila cinta perkara apa, 

“Apa itu cinta?”

Makanan khas daerah mana yang bisa membuat logika manusia dikalahkan perasaanya sendiri? 

Zat kimia buatan ilmuan asal mana yang bisa membuat makhluk Tuhan yang merasakannya terlihat seperti mempunyai dunia baru?


Bila cinta soal siapa, hm,

“Siapa yang membuatmu menjadi senyum-senyum sendiri?”
“Dia.”

Yakin dia, bukan ‘Dia’?

Kadang yang tiap waktu kita harap kedatangannya, tergantikan oleh mereka yang berusaha keras memperjuangkan hatinya; kita.


Bila cinta soal kapan, yang menjadi kalimat utama untuk kupertanyakan ialah,
 “Kapan rasa itu mendiami hatimu?” 

Apa kau bisa menjawabnya dengan detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun yang tepat? Cinta datang tanpa memberi kabar. Ia datang semaunya dan dia akan pergi seenaknya bila tidak dijaga. 

Apa kau bisa memesan cinta untuk dijadikan pelarian? Tidak. Perasaan bukan barang yang bisa dipesan dengan deadline yang telah ditentukan. Cinta perkara hati yang tak bisa didustai. Ia mengalir mengikuti arusnya.

Photo by favim.com

Bila cinta soal dimana, satu kalimat tanya dariku,

“Dimana kamu merasakannya?”

Bisakah kau menjawabnya sungguh-sungguh? Ketika degupan jantungmu mulai tak beraturan saat melihatnya di kantin sekolah, bisa jadi kamu mengira bahwa itu ialah cinta. Padahal sehari sebelumnya kamu main mata di taman kota dengan lelaki yang sama. Dan sebulan sebelumnya kalian berjalan bersama.


Bila cinta ialah mengapa,

“Mengapa kamu bisa merasakannya?”

Kamu punya alasan apa untuk menjawab kalimat sederhana seperti itu? 

“Karena dia tampan/cantik, tanahnya dimana-mana, kecerdasannya tiada tara dan bla bla bla”

Bukankah harta bisa lenyap bila kita tidak mensyukuri nikmat yang ada. 

Bukankah cantik atau tampannya seorang manusia adalah sebuah riasan yang kapan saja bisa diambil Oleh penciptaNya.

Bukankah pemikiran-pemikiran hebat yang kita miliki merupakan titipan Tuhan? Tidak salah bila Tuhan mengambilnya kembali.


Bila cinta perkara bagaimana,

“Bagimana perasaanmu kala itu?”

Bisakah kau jelaskan mana yang menurutmu cinta pertama? Lalu kau bercerita melebihi kenyataan yang ada. Mereka-reka bayangan putih di balik tudung hitam. Itu yang namanya kasmaran? 



Love is like the wind, you can't see it but you can feel it.

 22 Agustus 2014 00:00


-indikann-

Saturday, August 9, 2014

Agustus Putus


Matahari pertama di bulan baru, menimbulkan reaksi pada kehidupan yang juga baru. Membakar mawar di hamparan lebar penuh sekar. Bulan yang selalu kunanti kini dipenuhi rasa benci. Tak sudi lagi kuhirup hembusan angin di bulan agustus bersamamu.

Harusnya sekarang aku bersukacita menyambut hari istimewa yang selalu membuatku tertawa sebab kejutan darimu. Lain dengan kali ini, hatiku tak lagi kaumiliki. Hatimu masih menggantung pada labirin hatiku.

Aku ingin marah. Tapi susah. Sudah berakhir masih saja berharap.

Hatiku hancur lebur. Tak tahan menatap nanar matamu. Merenungimu membuatku tidak waras.

Aku ingin bertemu, tapi hati tak mampu. Rasa sakit masih merumah didadaku.

Dan kamu masih mengunci rapat-rapat sebab kepergianmu dariku.

Dan aku tak tahan dengan pertanyaan yang hanya bisa kujawab sendirian. Membuat bayang-bayang di balik kebimbangan. Semakin banyak tanda tanya tak terjawab.

Dan aku mulai bosan. Tapi hatiku tidak.

Rindu masih menggeliat menggelitik logika. Memaksa agar tetap setia pada mimpi-mimpi yang kita tulis bersama.

Kode etik makhluk Tuhan mencengkram perasaan. Memaksa agar segera beranjak dari hati yang terluka.

Hatiku robek.

Logikaku lumpuh temporer.

Kemarahanku memuncak.

Kesetiaanku menyentak.

Janjimu berguguran.

Mimpi-mimpi kita berceceran.



Aku tanpamu. Agustus tak berjalan mulus. Hidupku nampak lebih halus. Hatiku butuh waktu khusus.

9 Agustus 2014 ~ 00:53
-indikann-

Monday, July 21, 2014

Kembali


"Perempuan yang menjaga kehormatannya dengan menutup aurat itu perempuan hebat, pakai rok apalagi, ya nggak?" - Kamu, Sabtu, 19 Juli 2014

Perkataanmu menggeretak nuraniku. Meski perkenalan kita tak bisa dibilang lama, entah mengapa dengan riang hatiku meyediakan ruangan khusus untuk kaulabuhi. Kubuka lebar-lebar tanpa persyaratan. Untukmu, Mas.

Perempuan mana yang tidak mau mengikat janji dengan lelaki yang digandrungi banyak wanita? Bukan itu alasanku, Mas. Jauh di bawah bayang-bayang kelam ada kerindangan saat kata demi kata terlontar dari mulut manismu yang kata orang menggemaskan.


Harapanku terlalu tinggi. Jauh melampaui batas cakrawala. Menembus surga Sang Maha Kuasa.

Manusia banyak tingkah sepertiku masih pantas kan untuk mengaggumi lelaki yang canggung bila berhadapan wanita? 

Tak salah bukan bila aku merasa teduh di bawah payung lelaki yang bacaan tartilnya membuat hatiku luluh?

Bukankah wajar bila aku menyanjung lelaki? Bukankah ini kodratku sebagai makhluk Tuhan? 

Wajar kan?


Waktu, kembalilah seperti beberapa hari lalu saat aku bisa dengan bebas memperhatikannya dalam diam seribu bahasa.

Waktu, apa tak bisa berbalik arah? Aku ingin melihat lelaki yang kuanggap cemen sebab tak berani mengetuk pintu kamar akhwat.

Waktu, apa bisa kau membawaku pada masa lalu? Aku rindu dengan ocehannya yang jarang kugubris.

Waktu, bisakah aku menemuinya kembali? Aku ingin mendengar penjelasannya tentang bidang yang ia segani. Yang kala itu kuanggap remeh. 


21 Juli 2014 ~ 23:34
Terlalu dini bila kusimpulkan perasaanku saat ini.

-indikann-

Saturday, July 12, 2014

Ada yang Hilang


Ada yang ganjil. Sungguh.

Kuraba hatiku dengan penuh pengharapan. Kutemukan dedaunan mulai berguguran. Hilang sudah tanda-tanda kehidupan.

Ada yang pergi. Menghilang. Jauh.

Kamu, yang sedari tadi kupandang. Kuamati setiap gerak-gerikmu dari ujung hingga ke ujung lainnya. Dan kamu hanya diam, berbeda dengan kamu yang lalu.

Ada yang bergurau. Tertawa. Haha.

Senyummu.... sekali lagi. Iya, lagi. Aku tak pernah bosan memandangnya. Memusnahkan tiap-tiap memori sendu.

Ada yang hilang. Kamu,1 bersama satuan waktu.

Mati rasa, tak bisa berkata.


12 Juli 2014 ~ 19:12
Perjalanan pulang.