Monday, January 21, 2019

Tentang Harapan

Pada nyatanya kamu tidak bisa membuat semua orang bahagia juga sejalan dengan alur yang kamu pilih. Mungkin ada satu dua yang kecewa. Ah, tak apa, mereka hanya tak tahu ada impian besar yang ingin kau raih; yang kau pendam dalam-dalam sedari dulu sebab kau tak berani mengungkapkan, tahu diri kalau akan ditolak mentah-mentah, dibantah dengan segala argumen pribadi yang mereka miliki.

Mungkin ekspektasinya mereka masih berharap kau menjadi sosok itu tanpa melihat lekat-lekat dimana kebahagiaanmu, apa maumu. Mereka tidak salah juga tidak sepenuhnya benar sebab setiap orang punya jalan pikir masing-masing dan kau tak bisa memaksakannya.

Kamu boleh iri sebentar pada mereka penikmat kebebasan, namun setelahnya kau harus berjanji untuk berkompromi pada diri sendiri bahwa kehidupan setiap insan tidaklah sama. Jangan dibandingkan lagi ya, garis tangan Tuhan selalu baik.

Detik ini kamu boleh menangis. Tak apa, sayang. Silahkan. Hari-harimu belakangan penuh dengan pertanyaan orang kan? Juga sindirin yang membuat dadamu sesak. Ditambah lagi ungkapan perbandingan soal masa depan. Puas-puaskan air matamu berjatuhan sebentar. Sekali lagi, tidak mengapa.

Besok-besok kamu harus lebih berani menjawab pertanyaan mereka, janji, ya?

21 Januari 2019,
Ada yang datang (lagi) dengan pertentangan dan gurat penuh kekecewaan, tapi tidak apa-apa.

- indikann -

Thursday, August 2, 2018

Kata Si Maha Benar


Katamu komunikasi itu penting,
Katamu juga aku harus menyuarakan pikiranku,
Katamu lagi aku tidak boleh memendam,
Katamu lagi aku tak boleh egois

Lalu aku berusaha terbuka,
Sayangnya kau anggap aku tak jujur dalam berkata

Lalu aku berbicara meluapkan semuanya,
Sayangnya kau anggap aku pura-pura

Lalu aku mengungkapkan apa yang kurasakan,
Sayangnya kau menjadikanku biang kesalahan

Lalu aku menangis dalam diam,
Sayangnya kau tak penah paham itu



2 Agustus 2018
06:46

- indikann -


Wednesday, May 23, 2018

Pilihanku


Aku punya cerita yang tak sesuai untuk dikata tentang suatu semesta sederhana bernama kita yang kubelah menjadi dua.

Ada banyak hal yang ingin kulakukan. Aku akan melakukan apa yang sudah kutuliskan. Entahlah aku egois atau bagaimana tapi aku ingin terbang setinggi mungkin melewati batas cakrawala. Kau tidak mengekangku, tak pernah. Hanya saja aku tak mau membuatmu semakin susah. Sudah cukup kau mengalah untuk semua, merelakan pertemuan kita dengan kekonyolanku yang memilih menghadiri perhelatan lain, menunda membalas pesanmu dengan alasan klasik, “Maaf lagi banyak kerjaan”.

Ketika kepergian menjadi jalan yang kupilih, lupakanlah kejadian tempo lalu. Aku jatuh, aku sakit, aku merasakannya. Tapi aku sudah terbiasa untuk berdiri sendiri, tegak tanpa uluran tangan. Bukannya egois namun getirnya romansa sudah kutelan jauh hari sebelum pertemuan kita.  Maka ketika kau kembali dengan beribu maaf, yang kau jumpai tetap aku yang sama dengan simpul senyum di bibir yang lugu.

Ketika aku memilih untuk mundur, ingatlah satu hal bahwa kau bukan perusak mimpi-mimpiku. Sebab sebagian ambisiku berasal darimu, dukunganmu adalah semangat terhebat ketika penat mengusikku. Waktu yang kau luangkan untuk mendengarkan ceritaku lebih dari cukup untuk mengobarkan api dalam diriku.

Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa tentang kita di esok hari dan kau tak perlu repot-repot menyusunnya sebab tiada guna jikalau salah satu dari kita ada yang mengingkari. Tidak ada yang bisa meramal kita tapi aku percaya kalau merpati tak pernah ingkar janji dan jalan Tuhan adalah harapan terbaikku. Kau masih bisa menyapaku seperti saat itu, yang berbeda hanyalah kita berubah menjadi aku dan kamu.

Maaf, tapi aku memilih untuk mengharuskan diriku pergi.


25 Mei 2017
11:53

- indikann -

Tanda Tanya


Belum pernah kumerasa sesulit ini untuk memaafkan, menerima, dan melupakan. Sesulit apapun itu pasti akan hilang seiring berjalannya waktu, dan itu terjadi secara singkat. Tapi ini tidak. Terlalu lama aku terbelenggu dalam kebingungan.

Aku tidak tahu, mengapa begitu sulit untuk memaafkanmu. Berkali-kali kumencobanya dengan berbagai cara yang berbeda namun hasilnya nihil. Mungkinkah ada hal yang masih mengganjal hingga begitu sulit untuk menerimamanya? Apakah karena sesuatu itu masih tersimpan rapi di dalam kotak dan belum sempat kuserahkan padamu lalu itu menjadi sebuah hutang? Ah, waktu itu kau menghilang duluan sebelum kotak itu sempat kuberikan dan ditambah kalimat mereka yang semakin memaksaku untuk kembali menyimpannya di dalam almari dan tidak pernah kusentuh lagi sampai detik ini.

Entah salah siapa,tapi aku merasa bahwa kejadian tempo hari sangat tak beralasan dan kau tak pernah sekalipun mencoba menjelaskan. Ah, menjelaskan saja tak pernah apalagi meminta maaf. Mungkin itu yang membuat napasku sesak saat namamu disebut. Mungkin juga itu yang membuat otakku ramai sebelum bunga tidur menjemput.

Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa kita tak pernah saling mengerti. Kenapa begitu sulit untuk meluangkan waktu menceritakan yang sebenarnya terjadi; yang kukeluhkan dan kaurasakan. Apa kita terlalu egois untuk sekedar berbicara kenyataan? Apa kita terlalu mementingkan harga diri hingga gengsi menghampiri?

Kau tahu, banyak hal yang kujadikan alasan untuk tetap menganggapmu baik di mataku, namun sayang perselisihan dalam diriku sebab argumen yang kubuat sendiri justru membuatku terjerumus ke dalam tanda tanya yang semakin besar, dan tentunya aku butuh jawaban untuk setiap pertanyaan itu. Sangat butuh agar tak ada lagi kerisauan di antara kita.

Kenapa kau melakukan itu?

Kenapa kau tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa kau datang ke dalam kehidupanku lagi dan menganggap semua seakan baik-baik saja, padahal ada luka yang bersemayam dalam diri ini?

Apakah yang mereka katakan tentangmu itu benar?

Kenapa kau membuatku seperti  ini?

Bagiku, perlakuanmu kala itu sudah cukup untuk membuatku (merasa) tersakiti, entah bagaimana menurutmu sebab aku percaya, setiap orang memiliki versi ceritanya sendiri meskipun mereka menjadi tokoh dalam kejadian yang sama. Dan kita masih saling menutupinya, menyimpannya rapat-rapat dalam memori dan menjadikannya sebuah cerita dengan versi yang berbeda. Haha lucu.

Aku tahu, kali ini aku terlalu lugas meluapkan emosiku dengan mengataimu ini itu dalam setiap kalimatku. Bahkan menyudutkanmu sebagai satu-satunya pihak yang bersalah, padahal aku belum pernah mendengar ceritamu tentang kejadian ini. Bisa saja kau merasa bahwa aku yang salah. Tidak ada yang tahu kecuali kita; yang terlalu pelit berbagi cerita.

Dan, aku juga tahu,

Kamu pasti menganggap tulisanku sebagai angin lalu yang setelah kau baca akan kau simpulkan dengan kata, “Oh” Seperti sikapmu di waktu yang lalu ketika kita masih ada dan aku menyuarakan pandanganku. Kuharap kau tidak sama seperti dulu. Ya, tidak sama. Ah, memang tidak sama. Kau sudah semakin pandai menjadikan hidup seseorang sebagai sarana hiburanmu, tak seperti kamu yang dia (sahabat karibmu) kenal sekian tahun lalu saat mengenakan seragam putih merah.

Aku tahu setiap orang berubah tapi ini berlebihan; kau semakin pandai mempermainkan perasaan dengan mengatasnamakan kebaikan. Kau tahu, aku muak dengan kabar tentangmu dari mereka yang sampai di telingaku. Kau tahu, ini semua semakin membuatmu terlihat buruk di mataku.

Sebelum kau datang untuk sekedar menjelaskan, mungkin aku tetap bertahan dengan cerita versiku bahwa kau adalah orang yang pandai mempermainkan kehidupan seseorang; aku. Maaf.


 14 Juli 2017
02:43

- indikann -