Belum pernah kumerasa sesulit ini
untuk memaafkan, menerima, dan melupakan. Sesulit apapun itu pasti akan hilang
seiring berjalannya waktu, dan itu terjadi secara singkat. Tapi ini tidak.
Terlalu lama aku terbelenggu dalam kebingungan.
Aku tidak tahu, mengapa begitu
sulit untuk memaafkanmu. Berkali-kali kumencobanya dengan berbagai cara yang
berbeda namun hasilnya nihil. Mungkinkah ada hal yang masih mengganjal hingga
begitu sulit untuk menerimamanya? Apakah karena sesuatu itu masih tersimpan
rapi di dalam kotak dan belum sempat kuserahkan padamu lalu itu menjadi sebuah
hutang? Ah, waktu itu kau menghilang duluan sebelum kotak itu sempat kuberikan
dan ditambah kalimat mereka yang semakin memaksaku untuk kembali menyimpannya
di dalam almari dan tidak pernah kusentuh lagi sampai detik ini.
Entah salah siapa,tapi aku merasa
bahwa kejadian tempo hari sangat tak beralasan dan kau tak pernah sekalipun
mencoba menjelaskan. Ah, menjelaskan saja
tak pernah apalagi meminta maaf. Mungkin itu yang membuat napasku sesak
saat namamu disebut. Mungkin juga itu yang membuat otakku ramai sebelum bunga
tidur menjemput.
Terkadang aku bertanya pada
diriku sendiri, kenapa kita tak pernah saling mengerti. Kenapa begitu sulit
untuk meluangkan waktu menceritakan yang sebenarnya terjadi; yang kukeluhkan
dan kaurasakan. Apa kita terlalu egois untuk sekedar berbicara kenyataan? Apa
kita terlalu mementingkan harga diri hingga gengsi menghampiri?
Kau tahu, banyak hal yang
kujadikan alasan untuk tetap menganggapmu baik di mataku, namun sayang
perselisihan dalam diriku sebab argumen yang kubuat sendiri justru membuatku
terjerumus ke dalam tanda tanya yang semakin besar, dan tentunya aku butuh
jawaban untuk setiap pertanyaan itu. Sangat butuh agar tak ada lagi kerisauan di
antara kita.
Kenapa
kau melakukan itu?
Kenapa
kau tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?
Kenapa
kau datang ke dalam kehidupanku lagi dan menganggap semua seakan baik-baik
saja, padahal ada luka yang bersemayam dalam diri ini?
Apakah
yang mereka katakan tentangmu itu benar?
Kenapa
kau membuatku seperti ini?
Bagiku, perlakuanmu kala itu sudah
cukup untuk membuatku (merasa) tersakiti, entah bagaimana menurutmu sebab aku
percaya, setiap orang memiliki versi ceritanya sendiri meskipun mereka menjadi
tokoh dalam kejadian yang sama. Dan kita masih saling menutupinya, menyimpannya
rapat-rapat dalam memori dan menjadikannya sebuah cerita dengan versi yang
berbeda. Haha lucu.
Aku tahu, kali ini aku terlalu
lugas meluapkan emosiku dengan mengataimu ini itu dalam setiap kalimatku.
Bahkan menyudutkanmu sebagai satu-satunya pihak yang bersalah, padahal aku
belum pernah mendengar ceritamu tentang kejadian ini. Bisa saja kau merasa
bahwa aku yang salah. Tidak ada yang tahu kecuali kita; yang terlalu pelit
berbagi cerita.
Dan, aku juga tahu,
Kamu pasti menganggap tulisanku
sebagai angin lalu yang setelah kau baca akan kau simpulkan dengan kata, “Oh” Seperti
sikapmu di waktu yang lalu ketika kita masih ada dan aku menyuarakan
pandanganku. Kuharap kau tidak sama seperti dulu. Ya, tidak sama. Ah, memang
tidak sama. Kau sudah semakin pandai menjadikan hidup seseorang sebagai sarana hiburanmu,
tak seperti kamu yang dia (sahabat karibmu) kenal sekian tahun lalu saat
mengenakan seragam putih merah.
Aku tahu setiap orang berubah
tapi ini berlebihan; kau semakin pandai mempermainkan perasaan dengan
mengatasnamakan kebaikan. Kau tahu, aku muak dengan kabar tentangmu dari mereka
yang sampai di telingaku. Kau tahu, ini semua semakin membuatmu terlihat buruk
di mataku.
Sebelum kau datang untuk sekedar
menjelaskan, mungkin aku tetap bertahan dengan cerita versiku bahwa kau adalah
orang yang pandai mempermainkan kehidupan seseorang; aku. Maaf.
No comments:
Post a Comment