Katamu kamu tak pernah bermain-main dengan cinta. Jika begitu mengapa kamu mencari selingan disaat aku sibuk menilik perasaan. Dimana iktikadmu, iktikad yang selalu membuat hatiku lebur. Semua kata-kata manismu aku cerna dengan penuh kasih sayang. Celakanya aku telah dimatikan oleh perasaan, hingga logikaku lumpuh secara temporer.
Iya, aku tahu. Aku adalah seorang wanita yang menginginkan bahu untuk menampung segala keluh kesahku. Dan aku sudah menjadikanmu sebagai tempat terbaikku. Tapi mengapa kamu menghancurkannya begitu saja. Kamu membiarkan bahumu dimiliki oleh orang baru yang dulu kamu acuhkan. Lalu kamu meninggalkanku sendiri dengan janji-janji basi. Sebegitu mirisnya menjadi pemeran bernama aku.
Kalau kamu memang pemberani, kamu tak akan menyudutkan seseorang dengan caci maki.
Perpisahan memang jalan terbaik untuk kita. Daripada hanya satu orang saja yang berjuang. Lebih baik aku menghalah. Mungkin pilihan barumu lebih tepat dari pada aku yang menjijikkan ini. Bisa jadi kamu malu menjadi pemilik hipokrisiku, sebab kamu belum halal bagiku. Iya, bisa jadi.
Setelah perpisahan terjadi, layaknya orang patah hati. Aku sudah putus asa mendapatkanmu lagi. Berbagai sinar yang aku luncurkan tak pernah berbalik ke arahku dengan sempurna. Tak ada yang mengetahui kemana sinar itu pergi. Mungkin sudah menembus rona afeksimu secara tidak sadar.
Kalaupun sinar itu berbalik ke arahku, yang aku terima ialah hantaman meteor bertubi-tubi. Rongga di hati semakin membabi buta. Mereka protes pada kehidupanku. Mereka memintaku untuk menyerang balik si pelempar batuan. Namun, aku tak bisa apa-apa. Cinta telah membuat lamunan sayuku buyar seketika. Hmm.. aku pikir ini bukan karena cinta. Toh, Tuhan tak pernah suka jika hambaNya saling bermusuhan.
No more, I still love you even though I know you've hurt me. At least I don't want to kill you. But I'm gonna kill my hate reason for you because you ever made my life fly.
Kita memang sudah di ujung tanduk. Ke kanan jatuh, ke kiri luluh.
Mau bagaimana lagi, kalau aku lanjutkan hubungan ini luruhan air mata seakan sudah menjadi hal biasa. Jika tidak kulanjutkan sama saja, air mata menjadi muaranya. Ku mohon, gunakan logikamu sekarang juga, dear!
Sudah sepantasnya aku menegaskan berpaling dari hubungan tanpa akad. Ini cara terbaik mengusir kegalauan hati. Daripada aku terus menahan tangis lebih baik aku mengakhirinya sampai di sini dengan segala resiko yang akan aku tanggung sendiri.
Aku ikhlas dengan semua ini. Dengan caci maki yang kau beri tanpa henti dan dengan tikaman yang membuat aku ketakutan. Aku tak akan membencimu sebab kamu pernah mebuat senyum di wajahku tersimpul setiap saat.
Nindya, Indika
2013
No comments:
Post a Comment