Kacau.
Diawali kata kacau. Sudah bisa menebak tulisan seperti apa yang akan aku publikasikan? Masalah hati dan emosi.
Masih sama seperti kemarin; memendam, tak kunjung menyatakan. Sampai sakit merumah di dadaku. Sesak.
Kamu tahu bagaimana rasanya saat melihatmu bisa tertawa bebas lepas dengan yang lain. Gelak tawa itu selalu terngiang, menusuk labirin dengan kejam. Memang aku tak paham kemana arah pembicaraan kalian. Namun, itu sudah cukup membuat ngilu melebam begitu dalam. Bisa bayangkan seberapa sakitnya, marahnya, kecewannya. Untungnya, semua perasaan negatif bisa diredam oleh cinta yang begitu besar. Sama seperti yang pernah Mbak Fasih katakan.
Kamu tahu bagaimana perihnya ketika kamu menyapa yang selain aku. Padahal aku lebih dahulu ada di hadapanmu. Terlebih jika kamu sama sekali tidak melirikku. Bukan hanya sekali dua kali. Tapi setiap kali bertemu. Sampai aku memalingkan wajah tatkala bertatap muka denganmu. Dalam hati aku ingin menggeretak. Menikammu balik hingga kamu paham perasaanku. Hingga kamu tahu seberapa pedihnya menahan pilu yang meraung dalam kalbu. Aku tak sanggup melakukannya. Segala tentangmu sudah membuatku tunduk.
Kamu tahu betapa takutnya aku kehilangan pengisi nurani. Sangat takut. Selama kita masih terus begini, perasaan khawatir selalu menyelimutiku hingga saat ini. Macam mana jika kamu ditarik mundur oleh masa silam. Atau malah diambil paksa keadaan. Tak pernah kubayangkan apabila kamu pergi entah kemana tanpa meninggalkan pesan, hanya kenangan yang bisa menceritakan. Aku tak habis pikir, bagaimana jika aku menangis meratapi kepergianmu. Mungkinkah?
Kamu paham dengan perasaanku sekarang, kacau. Lebih parah dari kerusuhan sengketa lahan. Hatiku tidak tenang. Selalu memikirkanmu, membayangkanmu. Tapi kamu juga tak kunjung mengerti. Tak kunjung menyatakan. Bukan kamu yang menyatakan, tapi aku. Aku dengan segala ketiadaan; lemah jika diminta menyatakan duluan. Tak kuketahui sampai kapan aku akan begini; terpenjara dalam perasaanku sendiri. Mungkin sampai ada yang menyadarkanku kalau wanita tidak salah bila memberitahu perasaan terlebih dahulu, ketimbang lelah menunggu tanpa kepastian. Kapan itu akan terjadi? Entahlah, mungkin sampai aku bernyali lebih.
Aku sudah muak pura-pura tidak suka. Muak dengan ini itu dan segala peraturan fiktif yang berlaku.
Bukankah mendiskripsikan kamu melalui tulisan bukan sebuah kesalahan? Hanya saja kamu belum sadar, untuk siapa tulisan ini aku tujukan. Siapa lagi kalau bukan kamu; laki-laki pembawa rindu juga pilu. Wanita macam apa aku ini, beraninya hanya melaluli perantara tulisan. Orang boleh bilang begitu, semau hati mereka saja. Aku tidak ambil pusing asal mereka tidak bertingkah lebih. Aku bisa saja mendatangi mereka lalu mengamuk di hadapan masa, tapi itu tak sesuai dengan norma. Aku lebih suka melakukannya secara bertahap. Sebab, jika bisa dilakukan secara damai kenapa tidak?
Tunggu, tadi aku bilang aku berani berhadapan langsung dengan orang yang mencaci kelemahanku. Mengapa aku tidak berani berhadapan dengan kamu, padahal kita sama-sama manusia biasa. Aneh.
Aku sering berbohong pada diriku sendiri, meyakinkan hati bahwa kamu tak pernah kutempatkan dalam singgasana spesial di hatiku. Setelah kutengok lebih dalam, aku menemukan banyak kepingan perasaan. Sadis betul perilakuku, membohongi siapa saja yang bertannya tentang rasa. Aku tak ingin orang pada mengorek kehidupanku lebih dari yang aku inginkan. Aku suka jika semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Terlebih lagi, menumpahkan perasaan pada tulisan. Satu bait, dua bait hingga tersusun satu karangan penuh.
Melalui tulisan, orang bilang aku mengukir misteri asmara. Asal tidak menyalahi aturan, tak ku ambil pusing. Lewat tulisan ini, aku harap kamu paham. Juga pada orang-orang yang mengataiku misterius dalam hal percintaan. Tak usah kusebut namanya. Suatu saat kalian akan tahu juga.
Kalau aku belum bernyali untuk bersuara,
aku masih bisa menuliskannya dengan aksara
Nindya, Indika
20:01 ~ 191213
No comments:
Post a Comment