Monday, December 16, 2013

Sebelum Habis Waktu

Katanya, wanita dipandang lebih terhormat apabila tidak menyatakan duluan. Gengsi. Pernyataan ganjil itu berhasil mengelabuhi pola pikirku. Awalnya aku bingung harus bagaimana. Menyatakan duluan dengan risiko penolakan atau menunggu yang berujung pada kehilangan. Sama-sama menyisakan nyeri perasaan. Semisal terjadi penampikan, mau jadi apa aku. Nyaliku sudah habis dibabat perasaan malu. Bisa-bisa aku tidak berani melihatmu.

Jika aku tak kunjung menyatakan, aku khawatir orang lain berpeluang besar merasuki kalbumu. Memangnya kamu menyimpan perasaan yang sama, berani-beraninya aku berhipotesa seperti itu. Kamu saja susah terpancing kalau aku menyindir tentang isi hatimu. Bagaimana aku bisa tahu. Satu lagi, banyak wanita mengelilingimu. Hal semacam itu membuatku mengurungkan niat menambah porsi perasaan. Bukan karena aku ingin menghapus namamu dari daftar impianku, tapi karena aku tak ingin jatuh cinta lebih dalam saat menyaksikan kamu berjalan bersama orang yang berhasil menaklukkanmu.

Dengan atau tanpa perasaanku sekarang, aku ingin tahu tentang kisahmu. Masa lalumu, keadaanmu dan cita-citamu. Semuanya. Karena kamu lihai memmainkan perasaan. Kamu bukan laki-laki mata keranjang, kamu pandai pura-pura tidak jatuh cinta padahal sebenarnya iya. Selalu mengelak kalau ditanya "Kamu suka dia ya?". Teman dekatmu saja sampai tidak tahu kamu menyimpan rasa pada siapa. Hebat betul permainanmu.
Aku akan menjadi pendengarmu nomor satu. Akan kudengarkan semuanya dari awal kalimat hingga titik akhir. Tentang cerita cintamu yang tak kunjung lengkap. Lagi-lagi aku sok tahu tentang masalah hati. Bukankah dulu aku sudah pernah bilang, aku adalah wanita sok maha tahu. Segala sesuatu tentang kamu aku deskripsikan melalui mata dan cara bicara. Aku menemukannya, menemukan sekeping hati di sudut bibirmu.

Bolehkah aku mengambil sekeping hati pada sudut biraimu. Lalu aku rekatkan pada kisah harianku. Sebab aku tak ingin kehilangan impianku; kamu. Agar ceritaku bersamamu segera terlengkapi.

Pernahkah kamu mendengar; jangan sia-siakan orang yang menyayangimu. Karena tak semua orang melihatmu sama seperti orang yang menyayangimu. Aku tidak sedang merajuk minta dikasihani. Aku hanya mengingatkanmu saja. Jangan sampai kamu terlena dengan wanita disekelilingmu. Mereka bisa datang dan pergi sesuka hati. Tapi tidak dengan orang yang tulus menyayangimu, ia akan tetap mengiringi langkahmu.

Biarkan aku merenungi semuanya. Sebelum luka tergores pada lubuk hati paling dalam akibat melihatmu bergandengan dengan orang lain. Seharusnya aku yang menjadi makhluk Tuhan itu. Mengenggam jemarimu dengan erat agar aku tidak merasa sendirian, esok kalau kita sudah menjalin hubungan dengan akad. Sekedar impian saja. Entah akan terwujud kapan. Hanya do'a yang bisa kurapalkan dan usaha untuk terus memperhatikanmu dalam diam.

Ide buruk kalau aku diminta menyatakan duluan. Sebab otakku sudah dipenuhi kata-kata 'terhormat'. Bukan berarti menyatakan duluan itu tidak baik. Tapi aku sudah teracuni kata-kata yang entah darimana awal mulanya. Begitu mudahnya aku termakan apa kata orang. Bukankah ini menyangkut masalah kehidupan? Alasan klasik.

Setelah aku tahu, siapa yang berada di hatimu. Apa jadinya aku nanti. Kabar buruk jika ternyata kamu menyimpan rasa pada selain aku. Kabar buruk pula kalau kamu menyimpan rasa padaku. Kenapa? Karena aku akan dicerca sedemikian rupa. Bisa dibilang aku merebutmu dari penggila cintamu.


161213 ~ 16:31

No comments:

Post a Comment