Kadang kita merasa risih, anti, jijik dan tidak suka pada sesuatu yang berbeda dari biasanya namun tak menyalahi norma. Bila ada yang bertanya siapa contohnya, maka aku akan menjadi yang pertama dan paling lantang berucap kata.
Bilamana Tuhan sudah
menggariskan kehidupan, manusia tak bisa menolaknya.
Tiap hati diciptakan berpasangan. Menggerus perbedaan,
menyulam kebersamaan. Tak bisa kutepis perasaan yang sedang menggebu dalam
lubuk hatiku. Mengarungi dari suatu labirin ke labirin lainnya tanpa henti.
Ketika kita menemukan pelabuhan hati, kita (bisa) lupa
segala yang telah kita tetapkan sebelumnya. Harta, usia, postur tubuh, kecerdasan
semua menanggalkan singgasananya. Ketulusan menjadi satu dari sekian sifat yang
membuat kita menjemput hari bahagia.
Cita-citaku bukan
menjadi ahli debat, Sayang.
Mengertilah betapata resahnya aku atas ke(datang)pergianmu.
Usia kita sama, hanya tingkatan yang membuat kita dipandang
berbeda. Tatapan sinis mengutuk kedatangan kita. Walau tak semua mata peduli,
tetap ada nyinyir kata-kata kasar yang tak ingin kudengar. Mengakibatkan memar
di sekujur binar-binar bintang. Mencemari keindahan alam yang Tuhan beri.
Kita lahir di tahun yang sama, perbedaan pandangan membuat
kita merasa jauh. Rumit rasanya bila aku harus menjadi mereka yang sejenjang
denganmu. Sulit terasa dikala argumenmu berbaur dengan pola pikirku. Bagaikan
menenggak air samudra seantero jagat raya, tak ada habisnya perbedaan kita.
Kita sadar ingin
bersama, tapi tak bisa apa-apa.
Dengar,
aku masih setia menunggumu datang membawa senyuman di penghujung jalan. Aku masih
berada di tempat lama saat pertama kita berjumpa. Duduk manis mendo’a. Merapal
nama yang sama. Aku bersedia menyodorkan bahuku bila suatu saat nanti kamu
merasa butuh dekapan.
Lihat,
aku masih memandang wajah yang sama. Memperhatikan gerak-gerikmu. Memahami
tingkah lakumu. Melumat kata yang bisa membuatku rela.
Setiap
persoalan selalu disertai jawaban.
Semestinya
mereka tak perlu ambil bagian terlalu dalam. Mengorek keburukan, membongkar aib
seseorang. Mencerminkan sikap ketidakberdayaan.
Semestinya
aku tak perlu merasa risih bila ada yang berbeda, sebab perbedaan membuat dunia
terlihat lebih indah.
Semestinya
aku tak perlu marah pada perkataan tak bertanggung jawab. Sebab, aku pernah
memandang rendah perasaan yang saat ini kuselami.
Semestinya
kamu paham.
Terima kasih
sudah membuatku mencicipi pantanganku sendiri. Kalau bukan karena kamu, aku tak
pernah tahu bagaimana luluhnya logika mengikuti perasaan yang ada.
4 September 2014
01:50
-indikann-
No comments:
Post a Comment