Thursday, September 4, 2014

Beda


Kadang kita merasa risih, anti, jijik dan tidak suka pada sesuatu yang berbeda dari biasanya namun tak menyalahi norma. Bila ada yang bertanya siapa contohnya, maka aku akan menjadi yang pertama dan paling lantang berucap kata.


Bilamana Tuhan sudah menggariskan kehidupan, manusia tak bisa menolaknya. 

Tiap hati diciptakan berpasangan. Menggerus perbedaan, menyulam kebersamaan. Tak bisa kutepis perasaan yang sedang menggebu dalam lubuk hatiku. Mengarungi dari suatu labirin ke labirin lainnya tanpa henti.

Ketika kita menemukan pelabuhan hati, kita (bisa) lupa segala yang telah kita tetapkan sebelumnya. Harta, usia, postur tubuh, kecerdasan semua menanggalkan singgasananya. Ketulusan menjadi satu dari sekian sifat yang membuat kita menjemput hari bahagia.


Cita-citaku bukan menjadi ahli debat, Sayang. Mengertilah betapata resahnya aku atas ke(datang)pergianmu.

Usia kita sama, hanya tingkatan yang membuat kita dipandang berbeda. Tatapan sinis mengutuk kedatangan kita. Walau tak semua mata peduli, tetap ada nyinyir kata-kata kasar yang tak ingin kudengar. Mengakibatkan memar di sekujur binar-binar bintang. Mencemari keindahan alam yang Tuhan beri.

Kita lahir di tahun yang sama, perbedaan pandangan membuat kita merasa jauh. Rumit rasanya bila aku harus menjadi mereka yang sejenjang denganmu. Sulit terasa dikala argumenmu berbaur dengan pola pikirku. Bagaikan menenggak air samudra seantero jagat raya, tak ada habisnya perbedaan kita.


Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.

Dengar, aku masih setia menunggumu datang membawa senyuman di penghujung jalan. Aku masih berada di tempat lama saat pertama kita berjumpa. Duduk manis mendo’a. Merapal nama yang sama. Aku bersedia menyodorkan bahuku bila suatu saat nanti kamu merasa butuh dekapan.

Lihat, aku masih memandang wajah yang sama. Memperhatikan gerak-gerikmu. Memahami tingkah lakumu. Melumat kata yang bisa membuatku rela.


Setiap persoalan selalu disertai jawaban.

Semestinya mereka tak perlu ambil bagian terlalu dalam. Mengorek keburukan, membongkar aib seseorang. Mencerminkan sikap ketidakberdayaan.

Semestinya aku tak perlu merasa risih bila ada yang berbeda, sebab perbedaan membuat dunia terlihat lebih indah. 

Semestinya aku tak perlu marah pada perkataan tak bertanggung jawab. Sebab, aku pernah memandang rendah perasaan yang saat ini kuselami.

Semestinya kamu paham. 


Terima kasih sudah membuatku mencicipi pantanganku sendiri. Kalau bukan karena kamu, aku tak pernah tahu bagaimana luluhnya logika mengikuti perasaan yang ada.


4 September 2014
01:50

-indikann-

No comments:

Post a Comment