Emosiku meluap-luap. Namanya
sering terselip dalam jawaban tak sadarku. Aku gila, teriakku dalam hati.
Orang-orang memaklumi tingkahku, katanya seseorang yang belum bisa menerima
keadaan akan bersikap seperti bukan dirinya. Lebih kejam dari iblis belahan
dunia manapun.
Frustasi. Satu kata yang
menggambarkan kronisnya ditinggal pergi. Mungkin sama seperti beberapa waktu
lalu saat aku memilih berjalan sendiri mengikuti kemauan hati. Mengelilingi
sudut kota mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak pasti.
Pada hari Rabu di kedai kopi
penuh anak muda berpasangan pukul 13:24 aku duduk sendirian, menemukan satu
dari beribu tanya. Bahwa tak semestinya aku merasa hancur berkeping-keping dan
menangisi kesalahanku sendiri sebab aku tak peduli dan acuh menanggapi
perjuangannya. Seseorang juga bisa menyerah bila perjuangannya tak dihargai,
entah karena gengsi atau sebab lain.
Maka, pergilah bila sudah tak
tahan lagi. Berbahagialah dengan yang lain yang bisa mengukir senyum di bibir
merah nan indah. Jaga siapapun itu yang membuat hidup lebih bermakna. Jangan
khawatirkan aku, aku akan tenang di sini dengan kenangan dan dengan kehidupan
baru.
Maafkan aku,
Aku salah telah memberimu harapan
lalu menjatuhkan. Membuatmu terbang tanpa kepastian. Aku kerap mencarimu saat
kau pergi tanpa berpamitan, namun aku ragu dengan perasaanku sendiri. Saat kau
menyatakan, aku tak menjawabnya. Sebab aku merasa nyaman dengan seluruhmu tapi
rasaku...
Betapa bodohnya aku, mengcewakanmu.
Seharusnya dari awal aku paham dengan perasaanku. Tapi, apa daya aku tak
kunjung memahaminya. Baru sekarang aku mengerti bahwa yang nyaman belum tentu
cinta. Tapi, yang cinta sudah pasti nyaman.
Sekedar kau tahu, kamu alasanku
untuk selalu berangkat lebih awal dari biasanya. Bisa dibilang berangkat pagi,
sampai teman kelasku heran. Tanyakan pada mereka, biasanya aku berada di
sekolah saat bel dibunyikan. Ketika bersamamu, kucoba untuk menyamai waktu
keberangkatanmu. Barangkali kita bertemu. I’m
just want to talk with you.
Sepulang sekolah, aku sering
menunggu di depan gerbang atau di lobby. Siapa tahu bertemu lagi. Tak peduli
meski harus menunggu lama. Karena yang selalu kucari senyuman dari bibirmu.
Boleh kamu bertanya, Jadi, dulu
kamu suka aku?
Jangan paksa aku untuk menjawabnya.
Aku tak tahu harus menjawab apa.. Maaf.. Maaf.. Maaf.
Aku bisa menerima lalu menyelami
perasaanku sendiri. Tapi, aku bukan perempuan macam itu. Aku tahu cinta datang karena
terbiasa. Dengan begitu bukan berarti aku bisa seenaknya membiarkanmu masuk ke
dalam kehidupanku dengan alibi apapun.
Kadang aku berpikir, kenapa tidak
sedari dulu aku menerimamu. Apa daya, banyak yang mengatakan ini itu tentangmu
di hadapanku. Aku tak mau dijadikan pelampiasan. Aku tak suka dimanfaatkan.
Entahlah dengan perkataan mereka yang membuatku sukar meyakini perasaanku
sendiri.
Juga kedatang pergianmu yang tak bisa ditebak. Saat kaupergi yang selalu kuharap ialah kedatanganmu. Saat kau di sini yang selalu kukhawatirkan ialah kepergianmu.
Dan “You just play around with me”,
satu kalimatmu yang membuatku ingin
mundur namun tergantung dengan kalimat“Pertahankan kita ya. Tunggu aku besok.”
Sedari tadi aku menulis apa. Aku
sendiri tak paham. Kalimatku kesana kemari.
Dengan kasih,
indikann
Kemarin malam saat aku menemuinya
di depan griya, tak ada getaran apapun yang memaksaku untuk menyetia tanpa
mengharap balasannya. Atau mungkin aku pernah mencintainya tetapi sekarang
sudah tak lagi ada rasa? Biarlah semesta menjawabnya.
Atau aku menampik dibilang mencintainya? Sebab aku mulai muak jatuh di tempat yang sama. Dihujati kalimat yang membuatku semakin bimbang.
Orang lain yang kuceritakan
kisahku sejak awal, ia akan menduga bahwa yang kurasakan adalah cinta.
Nyatanya, aku tak mengerti perasaanku sendiri. Walau begitu, kuucap terima
kasih untuk kalian yang mau menjadi pendengar keluh kesahku. Dari aku heran
dengan tingkahnya, tertawa sebab leluconnya, harapan untuk bertemu tanpa
sengaja, kedatang-pergiannya, sampai saat orang lain bersamanya.
Ada sesuatu yang perlu diketahui,
aku sempat gila saat orang itu datang menggantikanku. Jangan tanya sebabnya,
mungkin karena aku belum terbiasa tanpa sapaan pukul dua pagi. Tanpa tentor
fisika yang membuatku (berusaha) menyukainya. Terima kasih atas waktu untukku,
untuk hari-hari yang tak terduga sebelumnya.
Begini uraianku perkara hati.
Maaf bila baru terjawab hari ini saat orang lain sudah mengisi hati yang sempat
mengeja namaku. Terlambat ya?
11:15
21 Desember 2014
-indikann-
No comments:
Post a Comment