Sunday, January 18, 2015

Jawaban



 Emosiku meluap-luap. Namanya sering terselip dalam jawaban tak sadarku. Aku gila, teriakku dalam hati. Orang-orang memaklumi tingkahku, katanya seseorang yang belum bisa menerima keadaan akan bersikap seperti bukan dirinya. Lebih kejam dari iblis belahan dunia manapun.

Frustasi. Satu kata yang menggambarkan kronisnya ditinggal pergi. Mungkin sama seperti beberapa waktu lalu saat aku memilih berjalan sendiri mengikuti kemauan hati. Mengelilingi sudut kota mencari jawaban atas pertanyaan yang tidak pasti.


 Pada hari Rabu di kedai kopi penuh anak muda berpasangan pukul 13:24 aku duduk sendirian, menemukan satu dari beribu tanya. Bahwa tak semestinya aku merasa hancur berkeping-keping dan menangisi kesalahanku sendiri sebab aku tak peduli dan acuh menanggapi perjuangannya. Seseorang juga bisa menyerah bila perjuangannya tak dihargai, entah karena gengsi atau sebab lain.

Maka, pergilah bila sudah tak tahan lagi. Berbahagialah dengan yang lain yang bisa mengukir senyum di bibir merah nan indah. Jaga siapapun itu yang membuat hidup lebih bermakna. Jangan khawatirkan aku, aku akan tenang di sini dengan kenangan dan dengan kehidupan baru.


Maafkan aku,

Aku salah telah memberimu harapan lalu menjatuhkan. Membuatmu terbang tanpa kepastian. Aku kerap mencarimu saat kau pergi tanpa berpamitan, namun aku ragu dengan perasaanku sendiri. Saat kau menyatakan, aku tak menjawabnya. Sebab aku merasa nyaman dengan seluruhmu tapi rasaku... 

Betapa bodohnya aku, mengcewakanmu. Seharusnya dari awal aku paham dengan perasaanku. Tapi, apa daya aku tak kunjung memahaminya. Baru sekarang aku mengerti bahwa yang nyaman belum tentu cinta. Tapi, yang cinta sudah pasti nyaman.

Sekedar kau tahu, kamu alasanku untuk selalu berangkat lebih awal dari biasanya. Bisa dibilang berangkat pagi, sampai teman kelasku heran. Tanyakan pada mereka, biasanya aku berada di sekolah saat bel dibunyikan. Ketika bersamamu, kucoba untuk menyamai waktu keberangkatanmu. Barangkali kita bertemu. I’m just want to talk with you

Sepulang sekolah, aku sering menunggu di depan gerbang atau di lobby. Siapa tahu bertemu lagi. Tak peduli meski harus menunggu lama. Karena yang selalu kucari senyuman dari bibirmu. 

Boleh kamu bertanya, Jadi, dulu kamu suka aku?

Jangan paksa aku untuk menjawabnya. Aku tak tahu harus menjawab apa.. Maaf.. Maaf.. Maaf. 

Aku bisa menerima lalu menyelami perasaanku sendiri. Tapi, aku bukan perempuan macam itu. Aku tahu cinta datang karena terbiasa. Dengan begitu bukan berarti aku bisa seenaknya membiarkanmu masuk ke dalam kehidupanku dengan alibi apapun.

Kadang aku berpikir, kenapa tidak sedari dulu aku menerimamu. Apa daya, banyak yang mengatakan ini itu tentangmu di hadapanku. Aku tak mau dijadikan pelampiasan. Aku tak suka dimanfaatkan. Entahlah dengan perkataan mereka yang membuatku sukar meyakini perasaanku sendiri. 

Juga kedatang pergianmu yang tak bisa ditebak. Saat kaupergi yang selalu kuharap ialah kedatanganmu. Saat kau di sini yang selalu kukhawatirkan ialah kepergianmu.

Dan “You just play around with me”,  satu kalimatmu yang membuatku ingin mundur namun tergantung dengan kalimat“Pertahankan kita ya. Tunggu aku besok.”

Sedari tadi aku menulis apa. Aku sendiri tak paham. Kalimatku kesana kemari.
Dengan kasih,

indikann


Kemarin malam saat aku menemuinya di depan griya, tak ada getaran apapun yang memaksaku untuk menyetia tanpa mengharap balasannya. Atau mungkin aku pernah mencintainya tetapi sekarang sudah tak lagi ada rasa? Biarlah semesta menjawabnya. 

Atau aku menampik dibilang mencintainya? Sebab aku mulai muak jatuh di tempat yang sama. Dihujati kalimat yang membuatku semakin bimbang.

Orang lain yang kuceritakan kisahku sejak awal, ia akan menduga bahwa yang kurasakan adalah cinta. Nyatanya, aku tak mengerti perasaanku sendiri. Walau begitu, kuucap terima kasih untuk kalian yang mau menjadi pendengar keluh kesahku. Dari aku heran dengan tingkahnya, tertawa sebab leluconnya, harapan untuk bertemu tanpa sengaja, kedatang-pergiannya, sampai saat orang lain bersamanya.

Ada sesuatu yang perlu diketahui, aku sempat gila saat orang itu datang menggantikanku. Jangan tanya sebabnya, mungkin karena aku belum terbiasa tanpa sapaan pukul dua pagi. Tanpa tentor fisika yang membuatku (berusaha) menyukainya. Terima kasih atas waktu untukku, untuk hari-hari yang tak terduga sebelumnya.

Begini uraianku perkara hati. Maaf bila baru terjawab hari ini saat orang lain sudah mengisi hati yang sempat mengeja namaku. Terlambat ya?

11:15
21 Desember 2014
-indikann-

Monday, January 12, 2015

Setengah Gila



18 Desember 2014


10:34
“Mau nonton film ini nggak?” teman lelakiku bertanya, tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
“Enggak, (menyebut nama)” jawabku datar sembari memandang ponsel; menunggu balasan pesan.
“Lho, kok (menyebut nama)?”
“Astaga, aku kenapa. Pikiranku kok begini...” kataku sambil mengambil tas dengan tergesa lalu keluar dari kelas dengan perasaan carut marut.


10:50
Sebuah pesan masuk.

“Ya udah. Selesai :)” jawabku singkat
“Aku tahu apa yang kamu rasain. Kamu perempuan kuat, jangan sedih lagi ya :)” Balas teman perempuanku.


10:57
Aku harus bagaimana. Aku tak mungkin membiarkan pikiran dan otakku tak tertata begini. Bagiku, suatu hal yang tak kunjung selesai akan terus menghantuiku. Walau aku pernah mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak perlu kita cari tahu sebab suatu saat jawaban akan terungkap. 


11:00
Kuturuti kemauan hatiku entah kemana perginya, aku harus beranjak dari tempat ini. Barangkali jawaban atas segala pertanyaan kutemui di jalan atau dari suatu keadaan tercipta pemahaman. Seperti kata guru mata pelajaran agama, membaca tak melulu melalui buku. Kita juga bisa membaca melalui keadaan. Dari situ kita belajar arti kehidupan.


11:54
Berjalan terus berjalan menyusuri trotoar penuh pedagang kaki lima. Jadilah aku berada di tempat penuh anak muda menjalin asmara. Bukan karena salah pilih, aku hanya menuruti kemauan hatiku.


12:06
Tempat umum. Tak mungkin aku menagis di sini dengan kesendirian yang dikelilingi banyak pasangan.


12:23

Selagi menangis tak meninggalkan dosa, aku akan menangis sejadi-jadinya. Mengutuk kebohongan berselimut bahagia. Menyesali waktu yang tak mungkin terulang lagi.

Oh, God...

Untuk apa Tuhan mempertemukanku dengan seseorang yang membuatku melawan kantuk pada dua pertiga malam bila akhirnya dipisahkan tanpa alasan.

Untuk apa Tuhan memberiku kebahagiaan sebab dekapan yang begitu erat bila akhirnya terlepaskan.

Untuk apa aku menunggu di depan gerbang, berharap menjumpai seseorang yanng berhasil menerobos kekokohanku untuk tak lagi menjatuhkan diri, bila kenyataannya tak kunjung kutemui.

Untuk apa Tuhan memberiku kado di hari suci nan fitri bila di akhir cerita diambil kembali.

Untuk apa Tuhan memberiku waktu singkat untuk mendekat lalu menarik lagi berjuta bahagia yang kurasa saat sedang klimaksnya.

CALAiS 181214


 Kamu tahu kan, perasaanku saat sedang kacau tak serasional logikamu.
Sudah pernah kuceritakan tentangku dulu kan?
Maafkan aku.

-indikann-

Tuesday, November 18, 2014

Wanita Yang Mencintaimu


Berhentilah bergumam perkara perasaanku. Aku masih menyetia pada satu nama yang membuatku urung beranjak pergi. Rasa yang mendiami hatiku kubiarkan bebas menyeru namamu. Jangan tanya sampai kapan aku akan terus begini, aku tak pernah dan tak bisa memaksakan diri untuk melupa. Meski berkali-kali kaudatang lalu pergi sesuka hati, aku masih berada di tempat yang sama sampai perasaan tak lagi bermukim pada nurani.