Pergilah sesukamu sampai jemu bersemayam dalam pikirmu. Berlarilah sejauh mungkin sampai kaudapat apa yang kauingin. Berkelanalah semaumu sampai kautemui hal-hal baru. Berceritalah kepadaku tentang semesta kecil yang kaujumpai sepanjang jalanmu.
Tertunduk layu aku pada bangku kusang, memandang bayangan yang semakin siang semakin menghitam. Kugenggam sisa-sisa dayaku sebelum habis termakan waktu. Kupeluk erat bekas dekapanmu bak perempuan tidak waras yang memeluk tubuhnya sendiri. Kesetiaanku memang tak ditakdirkan untuk mengawali. Meski berkali-kali kuucap perihal rasa, tak sekalipun aku berani angkat bicara.
Beginilah aku yang mengaku tak tahu malu, namun nyatanya hanya bisa menunggu. Ngilu sendiri menahan perasaan yang ingin segera diungkapkan. Perihnya tak bisa diibaratkan. Lukanya membekas di setiap ruang. Kecewanya menjelma menjadi buas yang kapan saja bisa mencari mangsa.
Kamu, yang kubiarkan bebas menghirup udara. Apa kautahau sebenarnya yang kumau? Hatimu. Sungguh hanya itu dan tidak lebih. Sebab hati mewakili hal yang tak terungkap. Termasuk perasaan yang kupendam dalam-dalam.
Sengaja aku tak mencela saat kehadiranmu tak lagi menghiasi hariku. Kalau ditakdirkan bersama, seberapa panjang jaraknya, seberapa besar rintangannya pasti akan dipersatukan juga. Begitu pikirku. Semacam pasrah atau bagaimana entahlah.
Satu lagi, aku tak pernah tahu untuk siapa hatimu sebenarnya. Siapa saja bisa kaujatuhi kalimat yang tak sepantasnya kauberi. Lalu aku punya alasan apalagi untuk terus menerus menunggu? Sudahlah, terkadang perasaan memang tak bisa disebandingkan dengan logika.
Kaubilang aku berlebihan? Berkali-kali kubilang perasaan bukan mainan yang dengan mudahnya kau lempar kesana-kemari.
21:54
15 November 2014
-indikann-
No comments:
Post a Comment