Sunday, November 16, 2014

Baru



Aku tak menyangka bisa berada di sini. Sebab sejak awal aku tak pernah menuliskannya dalam kotak impianku, kecuali saat masa kanak-kanak aku pernah berjanji pada seorang kawanku untuk menimba ilmu di sekolah yang sama; tempatku saat ini. Aku tak menyesali pilihanku, Tuhan memberi  yang terbaik untukku. Kalau bukan di sini, mungkin tak akan siswa siswi berdiri mendengar lagu Indonesia Raya setelah tadarus pagi.

Saturday, November 15, 2014

Menunggu


Pergilah sesukamu sampai jemu bersemayam dalam pikirmu. Berlarilah sejauh mungkin sampai kaudapat apa yang kauingin. Berkelanalah semaumu sampai kautemui hal-hal baru. Berceritalah kepadaku tentang semesta kecil yang kaujumpai sepanjang jalanmu.

Sebuah Pilihan


Hidup dan pilihan sudah menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Selama roda kehidupan masih berjalan, kita akan selalu disuguhi berbagai keputusan. Entah itu sesuai dengan kemauan atau hanya keputusan sepihak yang menyisakan kelabu di hari biru.

Sunday, October 19, 2014

Jatuh Tempo



Kita sedekat ini, sungguh? Aku masih tak percaya.
 
Dunia terlalu mungil bagi pertemuan yang tak terdamba. Segala sesuatunya berlangsung di luar rencana. Kejutan Tuhan selalu mengagetkan dan beralasan. 

Ketakutanku atas hubungan tak bernama masih menyelimuti perasaan di hati yang juga tanda tanya. Keyakinan yang kubuat sendiri perlahan luntur menggempur kekokohan sebuah prinsip. Pembelaan demi pembelaan kuperjuangkan untuk mencari dukungan. Namun, sia-sia. Sorot mata tak bisa menyangkal tiap debar jantung yang berdetak tak beraturan.

Mungkin aku tidak termasuk dalam daftar nama anak manusia yang jago menyembunyikan perasaannya. Cari saja kalau sempat. Kalau kamu mau dengan sabar mencari siapa sebenarnya penulis prosa yang tak kunjung memahami perasaan yang tumbuh di kalbunya.

Boleh jadi segala yang kurasa tak sepenuhnya kaurasa. Tentang satu nama yang sejak beberapa saat lalu mengganti kata ‘Dia’ dalam perbincanganku dengan Tuhan. Kau boleh tak percaya sebab aku juga sama. Awalnya kukira artian kita hanya sebatas aku dan kamu. Lama-lama mulai terbiasa dengan perbedaan yang membuat kita dipertanyakan, juga kebersamaan yang membuatku tak betah pergi terlalu jauh.

Sebuah prinsip yang kusematkan, dengan mudahnya kuhancurkan dengan sikapku sendiri. Ini bukan soal jatuh cinta dan semacamnya. Keresahanku jatuh pada sebuah titik yang membuatku takut untuk bangkit. Betapa tak berdayanya aku di bawah payung resolusi yang kubuat sendiri.


Tuhan, sebenarnya akau yang Engkau inginkan? Ingin mengetahui seberapa besar keinginanku untuk bertahan atau memang sengaja menyuguhiku hati untuk berlabuh?



20:25
18 Oktober 2014

-indikann-