Thursday, April 25, 2019

HEHEHE

Hehehe.

Hehehe.

Hehehe.

Sedang senang,

Ada yang membahagiakan,

Semacam menambah semangat,

Kalau-kalau aku sekarat,

Selalu ada senyuman setiap berpapasan,

Kalau-kalau aku mulai bosan,

Selalu ada pengingat,

Kalau-kalau aku mulai terperanjat

Jadi semakin semakin

Hehehe.

Hehehe.

Hehehe.

Saturday, April 6, 2019

Minum Kopi Malam Hari

Halo dari jauh,

Kamu pasti kesal kalau tahu ada yang membeli kopi malam-malam begini. Dengan banyak argumen kamu akan melarangku, tidak peduli seberapa keras permintaanku.

Tapi kali ini kita tidak dekat, jadi aku bisa bebas memilih kopiku, tak peduli soal waktu.

Nanti kalau kamu sudah baca ini, aku hanya akan tersenyum tanpa rasa bersalah sebab melihat raut wajahmu antara kesal dan rindu. Hehe, aku tahu kamu sulit marah. Bisa dihitung dengan jari sepertinya. Tapi kalau sudah muncul tanduk di kepala, bisa gila aku meladeninya.

Cepat pulang agar kita bisa menikmati senja bersama dengan secangkir kopi Hayati. Kamu masih ingat, kan, aku suka sekali ke tempat itu?

indica, 6 April 2019
      01:03

Monday, January 21, 2019

Tentang Harapan

Pada nyatanya kamu tidak bisa membuat semua orang bahagia juga sejalan dengan alur yang kamu pilih. Mungkin ada satu dua yang kecewa. Ah, tak apa, mereka hanya tak tahu ada impian besar yang ingin kau raih; yang kau pendam dalam-dalam sedari dulu sebab kau tak berani mengungkapkan, tahu diri kalau akan ditolak mentah-mentah, dibantah dengan segala argumen pribadi yang mereka miliki.

Mungkin ekspektasinya mereka masih berharap kau menjadi sosok itu tanpa melihat lekat-lekat dimana kebahagiaanmu, apa maumu. Mereka tidak salah juga tidak sepenuhnya benar sebab setiap orang punya jalan pikir masing-masing dan kau tak bisa memaksakannya.

Kamu boleh iri sebentar pada mereka penikmat kebebasan, namun setelahnya kau harus berjanji untuk berkompromi pada diri sendiri bahwa kehidupan setiap insan tidaklah sama. Jangan dibandingkan lagi ya, garis tangan Tuhan selalu baik.

Detik ini kamu boleh menangis. Tak apa, sayang. Silahkan. Hari-harimu belakangan penuh dengan pertanyaan orang kan? Juga sindirin yang membuat dadamu sesak. Ditambah lagi ungkapan perbandingan soal masa depan. Puas-puaskan air matamu berjatuhan sebentar. Sekali lagi, tidak mengapa.

Besok-besok kamu harus lebih berani menjawab pertanyaan mereka, janji, ya?

21 Januari 2019,
Ada yang datang (lagi) dengan pertentangan dan gurat penuh kekecewaan, tapi tidak apa-apa.

- indikann -

Thursday, August 2, 2018

Kata Si Maha Benar


Katamu komunikasi itu penting,
Katamu juga aku harus menyuarakan pikiranku,
Katamu lagi aku tidak boleh memendam,
Katamu lagi aku tak boleh egois

Lalu aku berusaha terbuka,
Sayangnya kau anggap aku tak jujur dalam berkata

Lalu aku berbicara meluapkan semuanya,
Sayangnya kau anggap aku pura-pura

Lalu aku mengungkapkan apa yang kurasakan,
Sayangnya kau menjadikanku biang kesalahan

Lalu aku menangis dalam diam,
Sayangnya kau tak penah paham itu



2 Agustus 2018
06:46

- indikann -


Wednesday, May 23, 2018

Pilihanku


Aku punya cerita yang tak sesuai untuk dikata tentang suatu semesta sederhana bernama kita yang kubelah menjadi dua.

Ada banyak hal yang ingin kulakukan. Aku akan melakukan apa yang sudah kutuliskan. Entahlah aku egois atau bagaimana tapi aku ingin terbang setinggi mungkin melewati batas cakrawala. Kau tidak mengekangku, tak pernah. Hanya saja aku tak mau membuatmu semakin susah. Sudah cukup kau mengalah untuk semua, merelakan pertemuan kita dengan kekonyolanku yang memilih menghadiri perhelatan lain, menunda membalas pesanmu dengan alasan klasik, “Maaf lagi banyak kerjaan”.

Ketika kepergian menjadi jalan yang kupilih, lupakanlah kejadian tempo lalu. Aku jatuh, aku sakit, aku merasakannya. Tapi aku sudah terbiasa untuk berdiri sendiri, tegak tanpa uluran tangan. Bukannya egois namun getirnya romansa sudah kutelan jauh hari sebelum pertemuan kita.  Maka ketika kau kembali dengan beribu maaf, yang kau jumpai tetap aku yang sama dengan simpul senyum di bibir yang lugu.

Ketika aku memilih untuk mundur, ingatlah satu hal bahwa kau bukan perusak mimpi-mimpiku. Sebab sebagian ambisiku berasal darimu, dukunganmu adalah semangat terhebat ketika penat mengusikku. Waktu yang kau luangkan untuk mendengarkan ceritaku lebih dari cukup untuk mengobarkan api dalam diriku.

Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa tentang kita di esok hari dan kau tak perlu repot-repot menyusunnya sebab tiada guna jikalau salah satu dari kita ada yang mengingkari. Tidak ada yang bisa meramal kita tapi aku percaya kalau merpati tak pernah ingkar janji dan jalan Tuhan adalah harapan terbaikku. Kau masih bisa menyapaku seperti saat itu, yang berbeda hanyalah kita berubah menjadi aku dan kamu.

Maaf, tapi aku memilih untuk mengharuskan diriku pergi.


25 Mei 2017
11:53

- indikann -

Tanda Tanya


Belum pernah kumerasa sesulit ini untuk memaafkan, menerima, dan melupakan. Sesulit apapun itu pasti akan hilang seiring berjalannya waktu, dan itu terjadi secara singkat. Tapi ini tidak. Terlalu lama aku terbelenggu dalam kebingungan.

Aku tidak tahu, mengapa begitu sulit untuk memaafkanmu. Berkali-kali kumencobanya dengan berbagai cara yang berbeda namun hasilnya nihil. Mungkinkah ada hal yang masih mengganjal hingga begitu sulit untuk menerimamanya? Apakah karena sesuatu itu masih tersimpan rapi di dalam kotak dan belum sempat kuserahkan padamu lalu itu menjadi sebuah hutang? Ah, waktu itu kau menghilang duluan sebelum kotak itu sempat kuberikan dan ditambah kalimat mereka yang semakin memaksaku untuk kembali menyimpannya di dalam almari dan tidak pernah kusentuh lagi sampai detik ini.

Entah salah siapa,tapi aku merasa bahwa kejadian tempo hari sangat tak beralasan dan kau tak pernah sekalipun mencoba menjelaskan. Ah, menjelaskan saja tak pernah apalagi meminta maaf. Mungkin itu yang membuat napasku sesak saat namamu disebut. Mungkin juga itu yang membuat otakku ramai sebelum bunga tidur menjemput.

Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa kita tak pernah saling mengerti. Kenapa begitu sulit untuk meluangkan waktu menceritakan yang sebenarnya terjadi; yang kukeluhkan dan kaurasakan. Apa kita terlalu egois untuk sekedar berbicara kenyataan? Apa kita terlalu mementingkan harga diri hingga gengsi menghampiri?

Kau tahu, banyak hal yang kujadikan alasan untuk tetap menganggapmu baik di mataku, namun sayang perselisihan dalam diriku sebab argumen yang kubuat sendiri justru membuatku terjerumus ke dalam tanda tanya yang semakin besar, dan tentunya aku butuh jawaban untuk setiap pertanyaan itu. Sangat butuh agar tak ada lagi kerisauan di antara kita.

Kenapa kau melakukan itu?

Kenapa kau tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa kau datang ke dalam kehidupanku lagi dan menganggap semua seakan baik-baik saja, padahal ada luka yang bersemayam dalam diri ini?

Apakah yang mereka katakan tentangmu itu benar?

Kenapa kau membuatku seperti  ini?

Bagiku, perlakuanmu kala itu sudah cukup untuk membuatku (merasa) tersakiti, entah bagaimana menurutmu sebab aku percaya, setiap orang memiliki versi ceritanya sendiri meskipun mereka menjadi tokoh dalam kejadian yang sama. Dan kita masih saling menutupinya, menyimpannya rapat-rapat dalam memori dan menjadikannya sebuah cerita dengan versi yang berbeda. Haha lucu.

Aku tahu, kali ini aku terlalu lugas meluapkan emosiku dengan mengataimu ini itu dalam setiap kalimatku. Bahkan menyudutkanmu sebagai satu-satunya pihak yang bersalah, padahal aku belum pernah mendengar ceritamu tentang kejadian ini. Bisa saja kau merasa bahwa aku yang salah. Tidak ada yang tahu kecuali kita; yang terlalu pelit berbagi cerita.

Dan, aku juga tahu,

Kamu pasti menganggap tulisanku sebagai angin lalu yang setelah kau baca akan kau simpulkan dengan kata, “Oh” Seperti sikapmu di waktu yang lalu ketika kita masih ada dan aku menyuarakan pandanganku. Kuharap kau tidak sama seperti dulu. Ya, tidak sama. Ah, memang tidak sama. Kau sudah semakin pandai menjadikan hidup seseorang sebagai sarana hiburanmu, tak seperti kamu yang dia (sahabat karibmu) kenal sekian tahun lalu saat mengenakan seragam putih merah.

Aku tahu setiap orang berubah tapi ini berlebihan; kau semakin pandai mempermainkan perasaan dengan mengatasnamakan kebaikan. Kau tahu, aku muak dengan kabar tentangmu dari mereka yang sampai di telingaku. Kau tahu, ini semua semakin membuatmu terlihat buruk di mataku.

Sebelum kau datang untuk sekedar menjelaskan, mungkin aku tetap bertahan dengan cerita versiku bahwa kau adalah orang yang pandai mempermainkan kehidupan seseorang; aku. Maaf.


 14 Juli 2017
02:43

- indikann -

Belajar dari Sekitar


Jumat kemarin kebetulan saya pergi ke Centro, ada hal menarik yang membuat saya senyum-senyum sendiri juga membuat saya mengevaluasi perilaku saya selama ini. Mungkin terlihat sepele, tapi bagi saya ini adalah cambuk untuk terus berprogres dalam hidup. Sebab hal kecil di sekeliling kita bisa jadi pelajaran berharga untuk bekal memanusiakan manusia.

****

Seorang Ibu mengenakan daster lusuh, jaket biru yang warnanya mulai pudar, dan sandal jepit dengan wajah amat sangat berbahagia menggendong seorang bayi sambil melihat deretan tas di bagian rak display piere cardin,

“Mas, iki apik,” (Mas, ini bagus) kata Ibu tersebut kepada sesosok lelaki yang mengenakan jaket hitam dan celana hitam selutut

“Hooh, Bu. Iki sing mau kae ning ngarepan to,” (Iya, Bu. Ini yang tadi ada di bagian depan kan)  jawab sang lelaki tersebut sama riangnya dengan si Ibu

Mbak, iki ono cangklongane ora yo?” Tanya si Ibu pada salah satu pramuniaga yang sedang bertugas

“Ada, Ibu. Selempangnya ada di dalam tas, ” jawab Mbak Pramuniaga dengan senyum dan penuh kesopanan

Kemudian si Ibu tadi membolak-balik bagian tas tersebut sembari mencari label harga, lalu Ibu tadi tersenyum pada mbak pramuniaga dan kembali menaruh tas tersebut ke tempat asalnya. Setelah itu si Ibu tadi berjalan ke sisi lain etalase tas sambil mencari tas yang sesuai dengan keinginannya.

Lagi, Ibu tadi mendatangi rak display yang berisi koleksi tas sakroots dan mencari barang yang Ia idam-idamkan. Senyum yang sedari tadi terpancar di wajahnya tak sekalipun absen menghiasi mimiknya. Tenang sekali rasanya.

***

Ada dua poin yang saya suka dan membuat saya kepikiran terus (So, I decide to write it), dua hal yang saya jadikan sebagai pelajaran dalam hidup untuk selalu berbuat baik kepada sesama, dua hal yang mengingatkan saya untuk selalu menjadi alasan seseorang tersenyum, dua hal yang mengajari saya cara menghargai, dua hal yang akan mendiami sisi penting dalam kisah hidup saya.

Pertama ketika si Mbak Pramuniaga melayani pembeli tanpa melihat tampilan luarnya. Mbak Pramuniaga itu menjawab pertanyaan si Ibu dengan sopan tanpa nggedumel sesudahnya. Kok saya bisa tahu? Karena saya berada di rak display yang bersebelahan dengan rak display tas yang didatangi si Ibu tadi sampai Ibu tersebut beralih ke etalase lain. Kebetulan juga saya dilayani sama Mbak Pramuniaga itu yang mau menjawab berbagai pertanyaan saya, sampai dikasih tau merek pembersih tas kulit sintesis yang bagus dan bagaimana cara membersihkannya.  Terima kasih, Mbak!  J

Kedua, saya mengagumi si Bapak yang tidak marah saat menemani si Ibu berkeliling mencari tas yang Ia cari. Menurut saya itu lumayan lama karena saat saya sudah berkeliling sampai kaki saya pegel, saya masih menjumpai kedua pasangan tersebut pada rak display tas di Centro. Bahkan Si Bapak terus-menerus menorehkan senyuman kepada si Ibu sambil sesekali mengelus kepala anak yang ada dalam gendongan si Ibu. Bapak itu mengajari saya cara untuk membagi kebahagiaan pada orang lain.


Kalau kalian ingin tahu, ketika saya tertarik dengan sesuatu, saya bisa memperhatikan hal tersebut sampai detail atau mungkin curi-curi pandang untuk mencari tahu, hehe.

28 April 2018
23:31
-indikann-

Sunday, February 12, 2017

Saat Sepi Menghampiri


Untuk seseorang yang merasa kesepian, kamu atau siapapun itu :)


Suatu hari di sebuah warung makan depan sekolah sembari menunggu teman lelakiku sholat jumat.

"Ndik, mau nanya"
"Boleh. Tanya apa?"
"Kamu pernah merasa sepi nggak?"
"Ummm... semua orang pernah ngerasain sepi kali"
"Kamu ada cowok nggak?"
"Banyaklah temen cowok, tapi kalau pacar enggak"
"Terus kalau kamu kesepian gimana?"

Kalau aku kesepian, 

Mungkin orang kira aku akan menangis di pojokan ruang, bertingkah aneh seperti orang fakir perhatian, mencoba melarikan diri dari sesuatu kalau itu benar-benar membuat depresi, atau apalah hal-hal yang biasa dilakukan orang (yang sedang) kesepian.

Ketika aku sendirian, banyak pertanyaan tentang kehidupan bermunculan. Lalu aku menjawabnya sendiri dengan nalar yang kumiliki. Termasuk soal sepi. Aku pernah bertanya pada cermin, apakah aku kesepian? dan pantulan cermin itu tadi tersenyum. Aku tahu jawabannya, aku bisa saja merasa sepi tapi aku tidak pernah hidup sendirian maka aku tidak kesepian. Sederhana bukan?

Aku tersenyum menyikapi tingkah konyolku ketika merasa sendiri padahal di sekelilingku banyak orang yang peduli. Mereka akan dengan senang hati membagi kebahagiaan yang mereka miliki untuk melengkapi sejengkal kekosongan dalam diri ini, bahkan tanpa perlu diminta sekalipun. Teman yang baik selalu tahu cara terbaik menjadi seorang karib.

Bersyukur masih diberi hidup oleh Tuhan, masih bisa menghirup oksigen dengan gratis tanpa perlu dipungut biaya sepeserpun, masih bisa melihat orang di sekitarku tertawa lepas tanpa beban, masih diberi kekuatan untuk dapat bertahan di tengah guncangan, masih diberi keikhlasan untuk memaafkan, masih diberi ingatan tentang sebuah kenangan, masih bisa memahami orang dari banyak sisi dan tentunya masih bisa mendengarkan pertanyaan-pertanyaan hebat kalian, hehe. I am blessed! 

Sebab bagiku rasa syukur  akan terus mengalir terlebih ketika melihat orang-orang di sekelilingku. Entah karena semangat mereka, kekonyolannya, tutur bahasanya atau apapun itu. Meskipun tidak aku pungkiri beberapa kali aku bertanya pada Tuhan, "Kenapa aku dipertemukan dengan mereka?" Mungkin aku butuh alasan dari sebuah pertemuan yang nanti pasti akan terjawab.  

Tentang stigma mayoritas yang mengklaim bahwa orang-orang yang duduk di sebuah kafe sendirian pasti kesepian, orang yang pergi ke bioskop membeli satu tiket untuk dirinya sendiri pasti hidupnya sunyi, orang yang berjalan sendirian di suatu tempat keramaian pasti hatinya sedang sepi dan masih banyak lagi hal-hal yang menurut mayoritas tabu. Kupikir perlu adanya perubahan cara pandang sebab tidak melulu orang melakukan hal itu karena mereka sepi, tidak punya kawan, sendiri.

Aku menghargai siapapun itu yang berprasangka bahwa orang seperti itu adalah orang yang kesepian. Terima kasih sudah mau memikirkan sesamamu sebagai makhluk sosial. Tapi alangkah lebih baik jika tidak langsung memvonis orang-orang seperti itu sebagai minoritas yang hidupnya jauh dari kebahagiaan. 

Bukankah kita semua dilahirkan untuk memelihara kehidupan? Maka, sudah sepantasnya kita sama-sama berbagi kebahagiaan satu sama lain. Tidak lagi mencela seseorang tanpa tahu alasan yang sebenarnya. Seseorang yang terkena kasus saja baru akan dibui ketika ada bukti yang kuat. Lalu, kenapa masih memvonis seseorang itu melakukan hal buruk ketika kita hanya memandangnya dari satu sisi?

Dan untuk kamu yang merasa kesepian, tengoklah sebentar sekelilingmu. Berbahagialah atas keceriaan mereka. Bersyukurlah atas semua hal yang dapat kamu gapai hingga sekarang ini. Aku yakin rasa sepi yang kamu rasakan akan sirna begitu saja sebab tawa adalah candu yang pandai merasuki diri siapapun itu tanpa diminta.


Starbucks Coffee, 
12 Februari 2016
03:18


- indikann -

Friday, September 2, 2016

Kedatangan(mu)


Setiap hati selalu punya porsi, tak peduli Ia datang dari arah kanan atau kiri, Ia selalu punya cara untuk menggenapi. Datang membawa secangkir kopi sembari menghabiskan waktu senja dengan guratan jingga. Tidak berbual menyoal mimpi, namun menyimpannya dalam hati sambil terus berusaha memperbaiki diri. Setiap hati memang istimewa. Apapun itu.

Kamu datang lalu menjadi salah satu bagian degupan penting dalam kehidupan. Dengan sigap seluruhmu berhasil menjadikanku sebagai perempuan paling konyol se antero jagad raya. Tiada henti tawaku terdengar dari ujung satu ke ujung lainnya, selalu begitu ketika kalimat-kalimat itu terucap dari sudut bibirmu juga susunan kata yang begitu padu dalam setiap pesan singkatmu. Kau tahu, aku selalu suka itu. Termasuk ketika kau sedingin salju, kukuh pada sesuatu, merajuk meminta ini itu; manja. Juga kesemua jawaban debilmu. Aku selalu rindu dengan semua itu.
Image result for coffee tumblr
Source by : http://deliciousfoodies.tumblr.com/post/39103364243/costa-coffee-tumblr-on-we-heart-it

Kalau kau tahu betapa aku selalu ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum bunga tidur menyapaku. Berkali-kali melirik ke arah telepon genggamku, barangkali ada pesan baru atas namamu. Berkali-kali pula aku menulis tentangmu. Berkali-kali juga aku membangun kepercayaan dengan sajak-sajak lalu. Ya, kau pasti tahu seberapa sering aku menghabiskan malam hanya dengan menulis atau meresapi setiap kalimat baru yang tergores dalam buku.

Meski waktu terkadang tega membunuh harapan, tidak sedikitpun menggoyahkan tekadku. Mungkin aku bersedih, namun itu hanya sepersekian detik. Menit selanjutnya kau akan melihatku sebagai perempuan yang sama seperti beberapa waktu lalu yang tersenyum menyambut kedatanganmu. Muramku tak akan lama selama kegembiraanku.

Aku menikmati setiap alurnya. Berbelok tajam, melewati tikungan, menyebrangi perairan bahkan sampai melakukan pendakian. Semua itu indah kala aku percaya bahwa segalanya akan kulewati dengan penuh tekad dan menghasilkan buah kemahsyuran. Aku diam membiarkan kisah ini berjalan semestinya karena aku suka menyesap pahit manis kehidupan sendirian. Bukan berarti aku egois tidak mau berbagi cerita denganmu, hanya saja aku tak pernah tega melihat kesedihan membayangi wajahmu.



Salam hangat dari pecandu rindu,
Aku

Sunday, April 3, 2016

Tuan Mahal Kabar #2


"Aku sudah mendapat kabar. Kasihan sekali kamu, tidak dipentingkan" - Jumat, 11:35
"Kemarin dia ...." - Sabtu, 18:35
"Lupakanlah, dia di sana sudah ..." - Rabu, 09:50

Terlalu banyak kata yang menoreh luka, tak bisa kusebut satu persatu abjadnya. Awalnya kuacuhkan, namun telingaku memanas seiring waktu membawaku ke jurang lebih dalam. Kalimat itu menjadi makanan sehari-hariku, dibarengi air yang menetes dari pelupuk mata. Pas sekali perpaduannya, pahit bercampur perih.

Sialnya lagi, rindu yang lugu itu dengan polosnya masuk tanpa mengetuk. Membuat malamku menjadi suntuk bukan karena suara nyamuk, namun sebab hatiku sedang berkecamuk. Kedatangpergianmu bagaikan ujung tanduk yang sedikit saja mengenai perasaanku sudah bisa membuanya remuk.

Kau, apa pernah memikirkan perasaanku saat hari-hari menyerangku untuk mundur?

Kau tahu bagaimana rasanya? Acap kali kau menganggap sepele keluhanku. Rengekanku masuk lewat telinga kananmu lalu keluar melalui telinga kirimu; tak pernah kau pedulikan. Oh, bukan begitu. Ini semua salahku. Salah bila aku menceritakan ketakutanku padamu. Salah bila aku ingin kau meyakinkanku bahwa kau tidak seperti yang mereka katakan.

Kau, apakah masih mau menemani anak kecil yang satu ini ?

Mungkin perkataanmu tempo hari memang betul, aku hanyalah seorang anak kecil. Ya, anak kecil yang banyak maunya. Maaf untuk semua kekanak-kanakanku. Maaf bila membuatmu ingin segera pergi. Memang pantas anak kecil ini ditinggalkan, sebab Ia sangat menyusahkan.


Tinggal menghitung hari, sebentar lagi kau pasti akan pergi...


- indikann -
19 Agustus 2015

Sunday, March 13, 2016

Tuan Mahal Kabar


Selamat sore, Tuan.

Kamu dimana?
Sedang apa?
Kapan pulang?

Lupakan pertanyaan tololku. Anggap aku tak pernah menannyakannya sebab aku bukanlah seorang pengemis. Entahlah kenapa aku bisa sebodoh itu menanyakan hal-hal tidak penting pada seseorang yang harga kabarnya begitu mahal, sampai batangan emas pun tak mampu membeli sebuah kabar. Mungkin hari-harimu dijejali banyak kesibukan hingga lupa kalau ada yang sedang harap-harap cemas menanti balasan pesan.

Aku paham suatu hari nanti kita akan sama-sama lupa, yang kita ingat hanyalah yang berada di dekat kita. Bukan aku maupun kau. Aku mengerti suatu saat nanti kita akan tenggelam dalam kesibukan. Sampai lupa kalau kita pernah saling membutuhkan. Aku sadar suatu waktu nanti salah satu dari kita akan mengangkat tangan saat ditawan keadaan. Menyerah meninggalkan kisah banyak kenangan. Begitulah sajak hipotesaku. 

Benar saja, tebakanku tidak meleset, jauh hari sebelum hal ini terjadi aku mencoba menguatkan hati untuk berani berjumpa lagi dengan hal yang sangat aku takuti. Namun kenyataan tak semudah itu. Aku masih terlalu rapuh untuk menyalami kepergian, meskipun kepergian itu sudah berada tepat di depan mata. Rasanya ingin segera menutup pintu lalu meringkuk di pojokan ruang.

Kau lupa ada yang sedang berusaha kabur dari kenyataan menyakitkan dengan memejamkan mata atau dengan melibatkan diri dalam berbagai proses kegiatan. Begitulah caraku melupa. Bukan melupakanmu, tetapi melupakan kabarmu. Sebab aku tak ingin berlama-lama menangis dalam diam, begitu senyap.

Kau perlu tahu, aku tidak meminta barang. Tidak ingin bunga. Tidak ingin coklat. Tidak ingin boneka. Hanya butuh waktumu yang katanya lebih dari sekedar hanya.

With love,
Anak kecil


- indikann -
17 Agustus 2015

Thursday, March 12, 2015

Egois


Dear, apapun itu yang menyangkut alibi, bisakah sekali saja tidak menuruti ego induvidualisme tinggi. Kekeras kepalaan tak akan memenangkan pertandingan. Malah menjatuhkan harga diri.

Belum ada jawaban pasti, sudah berbicara kesana-kemari membuat onar menggemparkan peradaban. Beruntunglah kalau jawabannya tepat. Kalau tidak, masihkah rupa yang tadinya berkobar, menyunggingkan senyuman?

Tidak baik mendahului jawaban. Boleh menduga-duga. Tapi, jangan sampai membuat gaduh; menomorsatukan pilihan sendiri tanpa memberi jeda orang lain yang setara untuk menyampaikan aspirasinya.

Terserah alibi apapun yang terucap, tetap itu tidak baik. Terkesan anti sosial dan hanya memenangkan satu jawaban yang lagi-lagi berasal dari diri sendiri.


Ditulis saat awal waktu ujian tertulis pendidikan kewarganegaraan.

10 Maret 2015
10:15

-indikann-

Untuk Aza


Aza, kemarin kau bertanya kapan aku akan kembali

Mengukir cerita bersama Aza lagi

Katamu kau rindu melodiku
Katamu kau rindu harmoniku

Aza, kau bilang kau bukan seorang komponis
Kau hanya bisa mengemis
Mengais-ais sisa kecupan yang membuatku histeris

Katamu kau tak lagi punya daya
Katamu kau sempat meneteskan air mata

Aza, boleh kau memintaku untuk pulang
Silahkan aku tak menendang

Katamu kita akan berpesta menikmati gotipua
Diiringi veena dari India


Untuk Aza.
Ditulis saat bosan melanda jam awal pengerjaan ujian tertulis seni budaya.

12 Maret 2015
10 :20

-indikann-