Sebelum ini aku tidak pernah merindu sampai mencekik jalan nafasku. Mengingat kembali memori sendu. Saat sebuah kebersamaan terpancar dihadapanku. Miris rasanya membicarakan kisah pilu. Selalu saja ada percikan bait-bait luka diantara rimbunan cinta. Namun, tetap saja perasaan yang tersimpan amat dalam menjadi pemenang nomor satu. Selalu. Tak pernah alpa dari absensi rindu. Mengalahkan persetruan antara kau dan aku. Cinta memenangkan segalanya. Entah kamu pura-pura mengalah atau memang mengaku salah atau mungkin rela mengorbankan hati demi orang yang dicintai. Entahlah. Mungkin aku terlalu ambisius untuk memenanangkan hatimu. Mencemburui segala perilakumu. Menghantam semua keluh kesahmu. Aku tidak bermaksud begitu. Aku membebaskanmu.
Sekalipun aku belum pernah menemukan yang seperti kamu. Membatalkan latihan hanya untuk menemaniku. Padahal delapan hari setelah itu pertandingan diadakan. Tak bisa kubayangkan bagaimana perihnya menjadi kamu saat dicaci kawanmu demi aku. Apa kau sadar, Sayang? Apa kau tidak merasa tertekan? Sungguh aku tidak memaksamu untuk selalu menemaniku kemana aku melangkah. Kau punya kehidupanmu sendiri. Aku tidak mengekangmu untuk menuruti inginku. Kau boleh mengatakan tidak kalau memang kurang berkenan. Aku tidak akan marah. Aku pahami itu. Tapi, kenapa kau mengatakan iya kalau aku menginginkan sesuatu. Tanpa aku katakan saja kau bisa menebak pikiranku. Apa kau seorang peramal, Sayang?
Ah, iya. Aku bingung dengan tingkahmu. Bukannya tidak suka. Kesannya kamu terlalu memanjakanku. Padahal aku bisa melakoni kegiatanku sendiri. Tanpa kau temani aku tetap bisa berpergian kesana-kemari. Kau tak perlu khawatir denganku, juga dengan perasaan di hatiku. Semua akan baik-baik saja.
Di dalam gerbong, 23:37 ~ 31 Januari 2014.
No comments:
Post a Comment