"Setitik kenangan terbuka sebab desahan angin. Membuka lembar demi lembar sendirian tanpa bersua. Membuat si pembaca tersenyum mengingat cerita masa kecilnya."
Bertemu penat dari ujung hingga bertemu ujung yang lainnya lagi. Sebentar saja, aku hanya melancong ratusan kilometer dari tanah kelahiranku. Menilik kehidupan di daerah lain yang lebih pekat diselimuti gas kimia daripada kota tercinta. Aku tidak sedang bersenang-senang membakar uang, hanya membuka mata pada ruangan berbeda setelah tiga hari berkutat dengan lembar jawab komputer yang dipenuhi bayangan sukses ujian.
Tak perlu koper, satu ransel kecil sudah cukup untuk membawa barang-barangku. Tidak seribet yang kamu kira. Duduklah aku di ruang tunggu sambil mendengarkan musik; mengusir rasa bosan. Menyilangkan kaki dan memperhatikan keadaan sekitar. Ada yang aneh.
Ya, Tuhan! Anak notaris itu... Seorang jangkung berkaos putih dibalut jaket hitam, menyeret koper menuju ruang tunggu. Dia; yang terlihat gagah, memandangku secara tajam. Deretan gigi putih dihiasi kawat gigi terlihat jelas lima langkah dari sorot mataku. Sosok seperti dia sudah tak asing lagi bagi kisah kecilku.
Tuhan, aku tidak sedang bermimpi, bukan?
Siapa sangka kalau aku dan dia bisa bertemu lagi di tempat ini, dengan tujuan yang sama dan maskapai yang tidak beda. Sama seperti beberapa tahun silam, saat aku melihatnya keluar dari ruang pengambilan barang. Saat itu dia masih terlalu mungil untuk kusebut sebagai jagoan tae boxing. Tapi dia sudah jago membuatku merasakan letupan-letupan pertama.
Ingin aku menyapannya, tapi ragu. Apa dia masih ingat aku? Apa itu benar-benar dia? Aku tak sepenuhnya yakin. Entah bagaimana, aku langsung berdiri, berjalan menuju ke arahnya. Skenario kecil bermunculan di otakku:
Nanti aku pura-pura tanya tiket, ah.
Eh, jangan. Ke penitipan barang aja.
Duh.
Ingin aku menyapannya, tapi ragu. Apa dia masih ingat aku? Apa itu benar-benar dia? Aku tak sepenuhnya yakin. Entah bagaimana, aku langsung berdiri, berjalan menuju ke arahnya. Skenario kecil bermunculan di otakku:
Nanti aku pura-pura tanya tiket, ah.
Eh, jangan. Ke penitipan barang aja.
Duh.
Jadilah aku satu langkah di hapadannya. Grogi.
"Hai!" Sapanya terlebih dahulu mengagetkanku
Ya Tuhan, orang yang dulu selalu cemberut ketika meminta pendapat tentang gambarannya masih mengingatku. Masih hafal kebiasaanku yang sering menuliskan namaku di kertas gambarnya. Jadi tersipu.
Kami hanyut dalam percakapan singkat. Sampai tidak mendengar pemberitahuan kalau penumpang diminta bergegas memasuki kabin. Berhubung maskapai penerbangan kami berseri sama, tak ada salahnya kami berjalan beriringan; depan belakang.
Sehabis Ujian Nasional, Juni 2012
No comments:
Post a Comment