Selarut ini jam weker kuning masih berdenting memecah keheningan malam. Secangkir kopi menemani melodi penuh penyesalan. Bunyi ponsel menghiasi gelapnya hari, pesan dari dia lagi. Katanya, mau meminta kembali. Berani sekali merajuk setelah mengetahui kekasih lama ke-sekiannya sudah memiliki. Jadi, hanya pelampiasan iri? Tanyakan pada lubuk hati.
Di sini aku berperan sebagai makhluk Tuhan yang sedang dikejar masa lalunya seperti seorang rentenir meminta tagihan. Memaksa. Sampai harus mengumpat setiap kali bertemu tanpa sengaja. Sampai rela berpura-pura tidak ada, padahal ada. Mau dibilang pembohong tingkat dewa juga tak apa, asal tidak membohongi hati sendiri saja.
Tegukan ke-tiga sesudah dua tegukan paksa agar mata tetap terjaga layaknya siang terang benderang. Orang itu masih menanyakan hal sama yang membuat kopi seduhanku terasa semakin getir. Ke-empat, ke-lima sampai tinggal setetes, masih merayu menjanjikan ini itu. Semisal kebahagiaan baka tanpa luka sepeserpun. Mana ada hidup tanpa luka, bukankah suka duka sudah disediakan satu paket. Tinggal bagaimana cara menyikapinnya. Coba gunakan logika.
Bukankah dulu kamu pernah bilang kalau aku ini manusia paling tak berperasaan. Menghitamkan kebaikan di hadapan orang, menduakan keteguhan demi segelintir keceriaan, mengaburkan pandangan untuk kesenangan. Sebegitu hinanya aku dalam pandangamu. Sangat menjijikkan. Lalu, mengapa kamu masih mengejar perasaan yang sudah ku musnahkan? Aneh betul tabiatmu.
Sekiranya kamu memandang tabiatku seperti itu. Tabiat yang katamu paling bobrok di antara lautan manusia. Masih mengharapkan cinta dari manusia super memuakkan seperti aku? Beri tepuk tangan. Cepat sekali kamu merubah pola pikir tentangku yang dulunya menyebalkan menjadi paling mengagumkan. Dalam rayuan, kamu bilang kalau makhluk Tuhan paling berkesan yang memiliki kesabaran tiada tara ialah aku. Aku yang pernah kamu hilangkan dari kehidupan, yang kamu pamerkan pada orang kalau aku paling keji.
Tak ada dendam bermukim di hati. Aku anggap semua kelakuanmu hanya sebuah kekhilafan walau masih ada bekas lebam kebiruan. Tanpa kamu minta, aku sudah memaafkan. Tapi, untuk menjalin hubungan lagi aku butuh waktu untuk berpikir. Sebenarnya hatiku masih tak yakin dengan kata-katamu, karena ini tentang watak yang 'katanya' tidak bisa dirubah. Namun, sebagian orang percaya dengan kekuatan cinta apapun bisa terjadi. Sayangnya, perasaan yang dulu kubanggakan sudah menanggalkan keajaiban.
No comments:
Post a Comment